Monday, October 3, 2022
Home Berita Komoditas Rekomendasi Minyak Mingguan 8 – 12 Agustus 2022: Bisakah Berbalik Naik Kembali?

Rekomendasi Minyak Mingguan 8 – 12 Agustus 2022: Bisakah Berbalik Naik Kembali?

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $97.62, harga minyak mentah WTI mengalami minggu terburuk dengan sempat turun ke level terendah dalam 6 bulan di $87.00 pada hari Kamis karena EIA melaporkan meningkatnya jumlah persediaan minyak mentah AS dan OPEC+ berjanji mensupply lebih banyak minyak ke supply global.

Namun pada hari terakhir perdagangan hari Jumat, harga minyak mentah WTI sempat berhasil naik ke sekitar $88.90 per barel, sebelum akhirnya terkoreksi turun kembali ke $87.96 per barel.

Pergerakan Harian Minggu Lalu

Memulai minggu perdagangan yang baru di $97.62, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Senin, turun dan diperdagangkan di sekitar $93.52 pada awal jam perdagangan sesi AS.

Harga minyak mentah WTI berada dalam tekanan bearish sejak jam perdagangan sesi Asia, dengan lingkungan pasar yang enggan terhadap resiko dan berhati-hati menjelang pertemuan OPEC dan sekutunya termasuk Rusia yang dikenal dengan OPEC+.

OPEC mempertahankan keanggotaan dari Rusia di dalam grup OPEC+. Hal ini memberikan dukungan terhadap turunnya harga minyak mentah. Pada akhir minggu, Sekjen OPEC Haitham alGhais mengatakan bahwa keanggotaan Rusia di dalam OPEC+ adalah vital bagi keberhasilan kesepakatan.

Ketegangan yang terjadi baru-baru ini antara AS dengan Cina mengenai Taiwan menambah tekanan turun dari harga minyak mentah WTI. Juru bicara Dewan Rakyat AS Nancy Pelosi akan memulai kunjungannya ke Asia dan dalam perencanaan skedul sebelumnya ada rencana mengunjungi Taiwan yang memicu kemarahan Cina.

Ekonomi AS terkontraksi untuk kedua kalinya, dalam dua kuartal berturut-turut yang menunjukkan bahwa telah masuk ke resesi tehnikal. Hal ini juga kelihatannya membebani harga minyak mentah WTI.

Perdagangan AS pada hari Kamis minggu lalu mengatakan bahwa GDP AS jatuh 0.9% pada kuartal ke dua, lebih buruk dari perkiraan pasar yang mengatakan kenaikan sebesar 0.4%. Sementara itu, penurunan dalam aktifitas ekonomi AS di kuartal ke dua ini muncul setelah GDP AS kuartal pertama juga terkontraksi sebesar 1.6%.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Selasa sempat melanjutkan penurunannya ke sekitar $92.27 sebelum akhirnya terkoreksi naik sedikit dan kembali diperdagangkan di sekitar $93.37, tidak banyak berubah dari posisi kemarin di $93.52.

Faktor yang sempat menekan turun harga minyak mentah WTI menjelang pertemuan Menteri – Menteri OPEC dan Non – OPEC yang akan diadakan pada hari Rabu tanggal 3 Agustus adalah berita dari Arab Saudi.

Sumber-sumber berita mengatakan bahwa Raja Arab Saudi memberikan kepastian akan meningkatkan produksinya kepada Presiden Biden selama pertemuan muka dengan muka pada tanggal 18 Juli yang lalu,

Pembicaraan mengenai potensi kenaikan jumlah produksi ini menekan harga minyak mentah WTI turun.

Hal lain yang membatasi kenaikan harga minyak mentah WTI adalah masuknya arus safe – haven di tengah pasar yang didominasi oleh sentimen “risk-off” karena meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dengan Cina.

Ketegangan antara AS dengan Cina meningkat pada hari Selasa dengan Jubir Dewan Rakyat AS Nancy Pelosi dilaporkan akan mengunjungi Taiwan pada Rabu pagi. Sementara Cina bersumpah akan membalas.

Jubir Menlu Cina Zhao Lijian mengatakan bahwa akan ada konsekwensi yang serius apabila Pelosi tetap mendesak untuk mengunjungi Taiwan. Outlet berita Cina juga melaporkan bahwa Taiwan akan menghadapi konsekwensi yang berat dan Amerika Serikat akan membayar harganya karena merendahkan Cina.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Rabu pada awalnya sempat naik ke sekitar $95.83. Namun pada jam perdagangan selanjutnya di sesi AS, akhirnya berbalik turun dan diperdagangkan di sekitar $90.85.

Menjelang pertemuan Menteri – Menteri OPEC dan Non – OPEC, pasar mengharapkan akan ada pertambahan target produksi yang akan bisa membantu menstabilkan harga minyak mentah.

Namun analisa yang berkembang di pasar menyimpulkan bahwa hasil pertemuan Menteri – Menteri OPEC dan Non – OPEC sangat sukar untuk diprediksi dan diperkirakan volume produksi yang ada sekarang tidak akan berubah sehingga tidak bisa membantu menstabilkan harga minyak mentah.

Dengan tidak adanya harapan akan ditambahnya produksi minyak mentah secara signifikan di dalam kebijakan produksi minyak mentah OPEC+ pada pertemuan Menteri – Menteri Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, harga minyak mentah WTI sempat mengalami kenaikan.

Sementara itu, Menteri Energi Kazakhstan, Bolat Akchulakov mengatakan bahwa aliansi OPEC+ harus menaikkan produksi minyak mentahnya untuk menghindarkan pasar dari “overheating”.

Menurut Akchulakov, harga minyak mentah yang dikehendaki adalah sekitar $80 per barel. Sementara saat ini harga minyak mentah berada di sekitar $100. Jadi perlu ditambah jumlah produksi untuk menghindari “overheating”.

Sementara itu, berita dari Reuters mengatakan bahwa OPEC+ sepakat untuk menaikkan produksi minyak mentahnya sebanyak 100.000 barel per hari sejak bulan September.

Harga minyak mentah WTI berbalik turun dengan berita yang terbaru ini.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Kamis kembali tertekan turun dan diperdagangkan di sekitar $87.35.

Harga minyak mentah WTI tetap berada dalam tekanan turun setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa inventori minyak mentah AS pada minggu lalu bertambah sebanyak 4,5 juta barel.

Berita ini datang menyusul laporan pada hari sebelumnya dari American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS meningkat menjadi sebanyak 2.165.000 bbl selama seminggu..

Hal yang menambah tekanan bearish bagi harga emas adalah hasil pertemuan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC+) kemarin dimana OPEC+ sepakat untuk menaikkan produksi minyak mentahnya sebanyak 100.000 barel per hari sejak bulan September.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Jumat berbalik naik diperdagangkan di sekitar $88.90 per barel.

Pada awal hari Jumat, harga minyak mentah WTI tetap tertekan pada level terendah dalam enam bulan karena ketakutan akan perlambatan ekonomi mengatasi krisis geopolitik. Harga minyak mentah WTI bergerak dalam rentang pergerakan harga yang sempit di sekitar $87.20 per barel sementara para trader minyak menunggu data employment AS.

Pada malam hari jam perdagangan sesi AS, laporan employment – NonFarm Payrolls AS muncul dengan kuat secara mengejutkan sehingga bisa memaksa Federal Reserve AS untuk bahkan menjadi lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneternya.

Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS untuk bulan Juli menunjukkan kenaikan yang sangat kuat dengan pertambahan sebesar 528.000 pekerjaan dibandingkan dengan yang diperkirakan pertambahan sebesar 260.000 pekerjaan. Sementara laporan NFP bulan Juni hanya menunjukkan kenaikan pekerjaan Non-Farm sebanyak 372.000. Tingkat pengangguran di bulan Juli turun menjadi 3.5% dari sebelumnya di bulan Juni 3.6%. Para analis pasar mengatakan bahwa setelah keluarnya angka pekerjaan AS yang kuat pada hari ini, berbaliknya the Fed menjadi dovish tidak akan terjadi.

Indeks dollar AS dan yields treasury AS melompat naik karena berita mengenai pekerjaan AS ini.

Meskipun demikian, harga minyak mentah WTI berbalik naik dan diperdagangkan di sekitar $88.90 per barel, sebelum akhirnya terkoreksi turun sedikit ke $87.96 per barel, dengan para Menteri Minyak negara – negara anggota OPEC+ menyoroti kekurangan kapasitas produksi minyak mentah. Selain itu ada persepsi di pasar bahwa negara – negara anggota OPEC+ ini tidak akan bisa menaikkan produksi mereka dengan substansial bahkan apabila mereka menginginkannya.

Pergerakan Minggu Ini

Minggu ini, ketakutan akan perlambatan ekonomi yang mengarah ke resesi global dengan agresifitas dari bank-bank sentral utama dunia dalam menaikkan tingkat suku bunga kelihatannya masih akan mengatasi kekuatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dengan Cina dan Rusia.

Perhatian pasar paling utama pada minggu ini ada pada laporan inflasi AS bulan Juli yang akan keluar pada hari Rabu dengan para ekonom memproyeksikan angka Consumer Price Index (CPI) AS tahunan akan muncul di 8.7% setelah meningkat dengan cepat ke 9.1% pada bulan Juni. Setiap kejutan angka di atas angka yang diperkirakan konsensus pasar akan menjadi faktor yang negatip bagi harga minyak.

Jika inflasi muncul lebih tinggi daripada yang diperkirakan, pasar akan mengantisipasikan kenaikan tingkat bunga the Fed pada bulan September sebesar 75 bps dan bahkan mulai memperhitungkan dalam harga kenaikan tingkat bunga sampai 100 bps. Kenaikan tingkat bunga sebesar ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global yang bisa menyeret dunia ke jurang resesi sehingga menurunkan permintaan terhadap minyak mentah. Semua hal tersebut adalah faktor negatip bagi minyak mentah.

Selain itu ketegangan antara AS dengan Cina mengenai Taiwan bisa mendorong dikenakannya sanksi atas Cina yang bisa memicu kekuatiran akan perrmintaan. Perlu dicatat bahwa Cina adalah konsumen minyak mentah terbesar di Asia sehingga bisa berdampak negatip bagi harga minyak mentah.

Latihan militer yang berat yang dilakukan Cina di perbatasan Taiwan bisa menimbulkan masalah dalam rantai supply global yang bisa membuat ketidak seimbangan baru di dalam matriks supply – demand, namun pada saat yang bersamaan dapat juga meningkatkan ketakutan akan resesi. Sementara serbuan Rusia yang berkelanjutan sudah menjadi berita lama yang tidak lagi menarik perhatian pasar.

Support & Resistance

Support” terdekat menunggu di $87.01 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $86.15 dan kemudian $85.52. “Resistance” yang terdekat menunggu di $88.98 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $89.44 dan kemudian $90.29.

( vibiznews )

Most Popular

Rekomendasi Emas Mingguan 3 – 7 Oktober 2022: Bisakah Menggeser Tren Bearish?

Apa yang akan terjadi dalam dua minggu ke depan akan sangat kritikal bagi harga emas menuju kepada akhir tahun. Semua mata sedang terus memandang...

Rekomendasi Minyak Mingguan 3 – 7 Oktober 2022: Bisakah Pulih Pada Minggu Ini?

Harga minyak mentah WTI pada minggu lalu banyak digerakkan oleh naik turunnya dollar AS yang dilatar belakangi oleh masuk keluarnya arus safe – haven...

Rekomendasi EUR/USD Mingguan 3 – 7 Oktober 2022: EUR Tetap Bermasalah?

Pasangan matauang EUR/USD memulai minggu perdagangan minggu lalu dengan posisi di bawah, jatuh ke kerendahan selama 22 tahun yang baru di 0.9535, namun akhirnya...

Rekomendasi GBP/USD Mingguan 3 – 7 Oktober 2022: Nasib GBP Tergantung Kepercayaan kepada Pemerintah Baru

Minggu lalu merupakan minggu yang volatile secara gila-gilaan bagi Poundsterling Inggris setelah presentasi dari budget mini yang sangat kontroversial dari pemerintah Inggris yang baru....

Recent Comments