Sunday, September 25, 2022
Home Berita Komoditas Rekomendasi Minyak Mingguan 15 – 19 Agustus 2022: Apakah Akan Bertahan di...

Rekomendasi Minyak Mingguan 15 – 19 Agustus 2022: Apakah Akan Bertahan di Atas $90?

Memulai minggu perdagangan yang baru pada hari Senin di $87.96 per barel, harga minyak mentah WTI mengakhiri minggu lalu pada hari Jumat di $91.44 per barel, naik secara mingguan. Setelah dari Senin sampai dengan Rabu, hanya berhasil naik ke $89, tidak berhasil menembus level resistance kuat di $90, pada hari Kamis berhasil naik menembus $90 ke $94.20 akibat keluarnya data inflasi AS bulan Juli yang memicu aksi jual dollar AS dan karena laporan dari EIA, namun pada hari Jumat kembali tertekan turun ke $91.32 karena dollar AS kembali menguat.

Apa yang Terjadi pada Minggu Lalu?

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Senin diperdagangkan naik ke sekitar $89.77 per barel.

Harga minyak mentah WTI mengalami pemulihan pada jam perdagangan sesi AS dengan berbalik naik diperdagangkan di sekitar $89.75 per barel, setelah sebelumnya sempat turun menyentuh ke rendahan selama 6 bulan di $87.01 pada hari Jumat minggu lalu dengan dollar AS mengalami kenaikan.

Kenaikan harga minyak mentah WTI antara lain disebabkan laporan yang mengatakan bahwa data dari perusahaan tehnologi energi Baker Hughers menunjukkan sedikit penurunan di dalam operasi penyulingan minyak di AS pada minggu lalu. Jumlahnya turun 7 rigs menjadi 598.

Selain itu melemahnya dollar AS juga mendukung naik harga minyak mentah WTI. Setelah mengalami rally yang disebabkan oleh NFP AS, dollar AS berada dalam fase konsolidasi pada permulaan minggu sementara investor menghitung ulang outlook tingkat bunga dari the Fed. Melemahnya USD secara luas berhubungan langsung dengan turunnya yields obligasi pemerintah AS dan menguatnya saham-saham di bursa saham AS, Wall Street.

Berita – berita dari sisi supply membatasi kenaikan harga minyak mentah WTI dimana ada pembicaraan antara Uni Eropa, AS dan Iran di Vienna dalam usaha mencapai kesepakatan program nuklir Iran dan membawa kembali produksi minyak mereka ke pasar global.

Selain itu Libia kelihatannya telah bisa mengatasi ketegangan politik domestiknya dan siap untuk meningkatkan produksinya kembali yang bisa membawa satu juta barel per hari kembali ke pasar global.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Selasa sempat diperdagangkan naik ke sekitar $91.23 per barel, sebelum akhirnya turun kembali ke $89.13 per barel.

Pada jam perdagangan sesi Eropa, harga minyak mentah WTI berhasil naik menembus resistance psikologis di $90.00 dan diperdagangkan di atas $91. Kenaikan harga minyak mentah WTI terutama disebabkan karena para investor minyak mengharapkan pemulihan dari permintaan minyak mentah setelah keluarnya angka Non-Farm Payrolls AS yang bagus.

Kenaikan pekerjaan yang dua kali lipat dari yang diperkirakan sebanyak 528.000 membangkitkan outlook permintaan bagi minyak mentah.

Naiknya kesempatan bekerja menunjukkan besarnya investasi yang sedang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan AS yang akan memperbaiki permintaan akan minyak mentah ke depannya.

Sementara itu, ekonomi Cina sedang mengalami pemulihan dari badai kebangkitan Covid baru – baru ini. Kembalinya keadaan yang normal di Cina telah memicu proyeksi pulihnya kembali permintaan minyak mentah di Cina. Pembelian minyak mentah bulan Juli meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan, sebanyak 8.79 juta barel per hari, naik dari ke rendahan selama empat tahun pada bulan Juni.

Dari sisi supply, Reuters melaporkan pada hari Selasa bahwa Rusia menangguhkan ekspor minyak mentah yang melalui pipa Druzhba dari sejak awal bulan Agustus karena persoalan biaya transit. Harga minyak mentah WTI melonjak setelah munculnya berita ini.

Harga minyak mentah WTI berbalik turun ke bawah $90 karena berita bahwa sudah dibuatkan draft text untuk memulihkan kesepakatan nuklir AS – Iran 2015 setelah beberapa ronde negosiasi mengalami kebuntuan. Apabila Washington dan Tehran sepakat terhadap persyaratan dan kondisi yang dituangkan di dalam draft tersebut, hal ini akan bisa menghapuskan sanksi terhadap Iran termasuk menghapus larangan ekspor minyak mentah.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal perdagangan hari Rabu tidak banyak berubah di sekitar $89.00 per barel dan tetap berada dalam tekanan turun.

Dalam jam perdagangan selanjutnya pada awal perdagangan sesi AS sebelum keluarnya data inflasi AS, harga minyak mentah WTI turun ke sekitar $88.70, turun lebih dari 0.35% dalam perdagangan intraday, dengan ketakutan akan terjadinya resesi mengatasi keprihatinan akan persoalan supply.

Namun harga minyak mentah WTI berbalik naik kembali ke sekitar $90.26 setelah keluarnya data inflasi AS bulan Juli yang memicu aksi jual dollar AS.

Data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS bulan Juli muncul tidak berubah dari angka di bulan Juni, dan secara basis tahunan naik 8.5%. Pasar memperkirakan angka CPI naik sebesar 8.7% Y/Y setelah kenaikan sebesar 9.1% pada laporan bulan Juni.

Turunnya angka Core CPI yang tanpa terduga telah memicu aksi jual dollar AS dan membuka pintu pemulihan yang pasti bagi harga – harga komoditi termasuk harga minyak.

Sementara itu pembicaraan mengenai perlambatan ekonomi di zona Euro meningkat setelah Rusia menghentikan supply minyak mentahnya ke zoan Euro. Rusia menangguhkan ekspor minyak mentah yang melalui pipa Druzhba dari sejak awal bulan Agustus karena persoalan biaya transit.

Dengan demikian, para investor minyak mentah mengabaikan optimisme yang dibawa oleh para perusahaan pipa dan penyuling minyak AS yang memperkirakan konsumsi energi akan menjadi kuat pada paruh kedua tahun 2022. Para analis dan pemerhati industri minyak mentah mengkuatirkan bahwa permintaan terhadap minyak mentah akan bisa jatuh jika ekonomi global memasuki resesi atau harga minyak mentah yang tinggi membuat para pelancong tidak bersemangat.

Sebelum keluarnya data inflasi AS, indeks dollar AS bergerak di sekitar 106.30 setelah berhasil naik dari kerendahan di 105.95 pada hari sebelumnya karena berhasil memanfaatkan arus safe – haven dan karena menguatnya yields treasury AS. Namun setelah keluarnya data inflasi AS indeks dollar AS kembali tertekan turun tajam ke 104.858.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal perdagangan hari Kamis berhasil melanjutkan kenaikannya ke $93.83 per barel.

Setelah pada hari Rabu berhasil naik menembus level psikologis di $90.00 per barel akibat keluarnya data inflasi AS bulan Juli yang memicu aksi jual dollar AS, minyak mentah WTI berhasil mempertahankan momentum bullish-nya dan melanjutkan kenaikannya menembus ke atas $93.00.

Setelah terus berjuang bertahan di sekitar $90.85 pada jam perdagangan sesi Asia dan Eropa, harga minyak mentah WTI mendapatkan dorongan naik lebih tinggi pada jam perdagangan sesi AS setelah keluarnya laporan dari International Energy Agency (IEA).

Di dalam laporan bulanannya yang dipublikasikan pada hari Kamis, IEA mengatakan bahwa mereka memperkirakan permintaan minyak global akan meningkat sebanyak 2.1 juta barel per hari pada 2023 melebihi level sebelum Covid di 101.8 juta bps.

Berita dari laporan IEA ini segera mendorong naik harga minyak mentah WTI menembus $93.00 per barel.

Selain itu di dalam laporan IEA dikatakan bahwa ekspor minyak mentah Rusia jatuh sebesar 115.000 bpd pada bulan Juli menjadi 7,4 juta barel dari sebelumnya 8 juta barel pada permulaan tahun ini.

Penurunan dari supply minyak mentah Rusia ini lebih terbatas daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sementara inventori minyak global turun sebanyak 5 juta barel pada bulan Juni.

Kenaikan harga minyak mentah WTI ditopang juga dengan melemahnya USD setelah keluarnya angka inflasi yang lain dari AS, Producer Price Index (PPI) bulan Juli.

Producer Price Index bulan Juli turun 0,5% dibandingkan dengan laporan PPI bulan Juni kenaikan sebesar 1.1% dari bulan Mei, dan dibandingkan dengan yang diperkirakan kenaikan sebesar 0.2% pada bulan Juni.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal perdagangan hari Jumat terkoreksi turun ke sekitar $91.32 per barel.

Harga minyak mentah WTI mengalami koreksi turun setelah sempat mencetak harga di ketinggian mingguan di $94.20 per barel.

Sebelumnya harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan yang tajam setelah International Energy Agency (IEA) menaikkan proyeksi permintaan minyak mentah secara dramatis. Harga energi meningkat tinggi di seluruh dunia dengan musim dingin datang dan permintaan untuk gas alam kemungkinan akan berada pada posisi di puncak. Konsumen gas alam cenderung bergeser ke minyak mentah untuk memenuhi permintaan energi di musim dingin.

Koreksi turun harga minyak mentah WTI terjadi karena menguatnya dollar AS. Namun pada hari Jumat indeks dolar AS berhasil menghentikan penurunannya dan diperdagangkan naik, meskipun secara mingguan masih mencetak kerugian dengan indeks dolar AS berada di level 105.60. Naiknya indeks dolar AS terjadi disebabkan karena aksi ambil untung sekalipun yields AS menurun.

Bagaimana dengan Minggu Ini?

Setelah berhasil naik menembus $90 pada minggu lalu karena perkiraan permintaan akan minyak mentah dari International Energy Agency (IEA) yang menaikkan proyeksi permintaan minyak untuk tahun 2023 secara dramatis, pada minggu ini harga minyak mentah WTI kemungkinan masih bisa bertahan di atas $90 dengan harga energi tetap akan tinggi karena musim dingin akan segera datang. Dengan datangnya musim dingin maka kebutuhan akan gas alam akan tetap tinggi. Dan konsumen gas alam cenderung akan menggeser pembeliannya ke minyak mentah untuk bisa memenuhi permintaan energi di musim dingin.

Sementara itu melemahnya dollar AS setelah rilis data ekonomi Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS bulan Juli kelihatannya masih akan berpengaruh pada minggu ini. Penurunan angka CPI dan PPI yang merupakan angka pengukur tingkat inflasi di Amerika Serikat ini bisa memberikan signal bahwa kenaikan inflasi AS telah mengalami kelelahan.

Fokus pasar pada minggu ini ada pada dipublikasikannya risalah pertemuan FOMC the Fed yang bisa membawa turun dollar AS. Risalah pertemuan ini kemungkinan akan menunjukkan meningkatnya diskusi untuk menurunkan siklus kenaikan tingkat suku bunga the Fed setelah mendorong naik sampai netral.

Bank sentral AS ini kemungkinan akan mengurangi besarnya kenaikan tingkat bunga pada bulan – bulan yang akan datang dengan ketua FOMC the Fed mengakui bahwa pantas untuk memperlambat kenaikan tingkat suku bunga sementara mereka menilai ulang seberapa jauh kumulatif dari kebijakan moneter selama ini telah mempengaruhi inflasi dan ekonomi AS.

Sekalipun Federal Reserve AS tetap akan mempertahankan agresifitas dalam menaikkan tingkat suku bunga kuncinya, namun bank sentral AS ini pasti akan berkurang dalam kecenderungan hawkish-nya.

Support & Resistance

Support” terdekat menunggu di $90.98 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $90.12 dan kemudian $89.21. “Resistance” yang terdekat menunggu di $92.02 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $93.31 dan kemudian $94.68.

( vibiznews )

Most Popular

Rupiah Jumat Ditutup Melemah ke Rp15.037/USD; Dollar di Eropa Perkasa 2 Dekade Lebih Tertingginya

Dalam pergerakan pasar uang akhir pekan Jumat sore ini (23/9), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau ditutup melemah di hari keenamnya, menambah sedikit loss...

Harga Gula Naik Ke Tertinggi 1 Minggu

Harga gula pada penutupan pasar hari Kamis naik. Harga gula di New York naik tertinggi 1 minggu. Naiknya harga minyak mentah pada hari Kamis...

Harga Kedelai Turun, Indeks Dolar AS Menguat

Harga kedelai pada hari Kamis turun karena menguatnya indeks dolar AS. Penjualan pada minggu lalu turun karena harga kedelai dari luar AS lebih murah.  Menguatnya...

Stabilitas Nilai Tukar Rupiah Tetap Terjaga Di Tengah Ketidakpastian Pasar Keuangan Global

Saat menyampaikan keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan BI7DRR, Gubernur BI menyampaikan juga beberapa hal penting. Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap...

Recent Comments