Friday, July 1, 2022
Home Analysis Opini Rekomendasi GBP/USD Mingguan 2 – 6 Mei 2022: Masih Mencari Bottom?

Rekomendasi GBP/USD Mingguan 2 – 6 Mei 2022: Masih Mencari Bottom?

Memulai minggu yang baru pada minggu lalu di 1.2888, GBP/USD pada minggu lalu mengalami penurunan yang signifikan ke kerendahan baru di 1.2573. Dolar AS mengatasi rival-rival utamanya di tengah keengganan terhadap resiko dan pounsterling Inggris tidak mendapatkan permintaan karena data ekonomi yang keluar buruk, sehingga menyebabkan pasangan matauang ini terus terdorong turun.

Pounsterling juga tertekan oleh perbedaan kebijakan moneter the Fed dengan Bank of England. Indeks dollar AS menguat terhadap Sterling karena naiknya kemungkinan the Fed menaikkan tingkat bunga pada bulan Mei. Kenaikan tingkat bunga sebesar 50 basis poin pada minggu ini kelihatannya sudah pasti sekarang ini dalam rangka menjinakkan inflasi yang membumbung naik. Indeks dollar AS mencapai level tertingginya selama 20 tahun dengan hanya sedikit di bawah level 104.00. Meskipun demikian poundsterling akan sangat dipengaruhi oleh keputusan BoE minggu ini. Diperkirakan BoE hanya akan menaikkan tingkat bunga sebesar 25 bps.

Setelah mengalami penurunan lebih dari 1% pada hari Jumat dua minggu lalu, GBP/USD memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu dengan berada di bawah tekanan bearish yang berat. Dolar AS mengatasi rival-rival utamanya di tengah keengganan terhadap resiko dan pounsterling Inggris tidak mendapatkan permintaan karena data ekonomi yang keluar buruk, sehingga menyebabkan pasangan matauang ini terus terdorong turun.

GBP/USD terus turun ke arah 1.2700 di sekitar 1.2710, pada hari Senin, tertekan oleh data Inggris yang mengecewakan dan lingkungan pasar yang enggan terhadap resiko. Indeks saham utama Wall Street tetap pada jalurnya, memulai hari dengan penurunan yang tajam, yang menunjukkan akan menguatnya dollar AS.

Setelah data penjualan ritel Inggris yang mengecewakan pada hari Jumat dua minggu lalu, pada hari Senin minggu lalu, Confederation of British Industry (CBI) melaporkan bahwa Manufacturing Optimism Balance jatuh ke level terendah sejak April 2020. Terlebih lagi, Expected Domestic Price Balance, lompat ke level terkuat sejak 1977, yang menunjukkan perlambatan di dalam aktifitas dan meningkatnya tekanan harga.

Pada hari Selasa, GBP/USD turun menembus 1.2700 ke arah 1.2600 dan diperdagangkan di sekitar 1.2628, level terendah sejak Juli 2020, menghapus keuntungan yang diperoleh pada waktu mengalami pemulihan, di tengah kenaikan kembali dollar AS dan arus “risk-off” yang mendominasi pasar. Pounsterling juga tertekan oleh perbedaan kebijakan moneter the Fed dengan Bank of England.

GBP/USD turun pada awal jam perdagangan sesi Eropa setelah sebelumnya sempat pulih naik ke arah 1.2770 selama jam perdagangan sesi Asia.  Meningkatnya ketakutan atas isu rantai supply yang menaikkan inflasi global bersamaan dengan lockdown karena coronavirus di Beijing dan konflik Rusia – Ukraina yang berkelanjutan membuat dollar AS mengatasi rival-rival utamanya sebagai alternatif matauang yang lebih aman.

Pada hari Rabu, GBP/USD berbalik arah dan memulai penurunan ke bawah 1.2550 setelah sebelumnya sempat mengetes 1.2600 dan pada saat itu diperdagangkan di sekitar 1.2545. Dolar AS terus mengatasi rival-rivalnya dan membebani pasangan matauang GBP/USD di tengah sentimen pasar yang buruk sebagaimana yang terefleksi pada pasar saham dimana indeks saham AS menghapus keuntungan yang diperoleh sebelumnya.

Pasangan matauang GBP/USD bergerak naik turun dalam rentang harga yang sempit di antara 1.2560 – 1.2591 pada jam perdagangan sesi Asia. Poundsterling mengalami gelombang bearish yang baru dengan indeks dollar AS naik mengarah ke ketinggian selama lima tahun di 102.99.

Indeks dollar AS menguat terhadap Sterling karena naiknya kemungkinan the Fed menaikkan tingkat bunga pada bulan Mei. Kenaikan tingkat bunga sebesar 50 basis poin kelihatannya sudah pasti sekarang ini dalam rangka menjinakkan inflasi yang membumbung naik.

Sementara itu, buruknya angka Durable Goods Order AS gagal berdampak terhadap rally indeks dollar AS. Biro Sensus AS pada hari Selasa melaporkan laporan Durable Goods Orders AS bulanan yang muncul di 0.8%, lebih rendah daripada konsensus pasar di 1%.

Meskipun demikian poundsterling akan sangat dipengaruhi oleh keputusan BoE minggu ini. Diperkirakan BoE akan menaikkan tingkat bunga sebesar 25 bps. BoE terbuka untuk sikap hawkish yang agresif karena meningkatnya inflasi di Inggris. Pasar tenaga kerja yang ketat dan naiknya angka Consumer Price Index (CPI) memberitahukan akan kemungkinan kenaikan tingkat bunga yang besar dari BoE.

Pada hari Kamis, GBP/USD tetap tertekan di bawah 1.2500 diperdagangkan di sekitar 1.2440 dengan dollar AS terus menguat secara luas di tengah kombinasi dari permintaan safe – haven di pasar matauang dan juga naiknya yields obligasi pemerintah AS karena the Fed diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunganya dengan kecepatan yang lebih agresif pada kuartal – kuartal yang akan datang dibandingkan dengan kebanyakan negara anggota G10.

Hal ini termasuk juga dengan Bank of England (BoE) yang diperkirakan hanya akan menaikkan tingkat bunga sebesar 25 bps pada minggu ini, walaupun sebagian analis telah memperingatkan akan terjadinya perlambatan di dalam kecepatan kenaikan tingkat suku bunga ke depannya, dengan keprihatinan akan Kesehatan ekonomi Inggris meningkat.

GBP/USD berhasil menghapus sedikit kerugian hariannya setelah Bureau of Economic Analysis dari Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa GDP AS menciut 1.4% pada kuartal pertama dibandingkan dengan yang diperkirakan pasar, naik 1%.

Meskipun naik ke arah 1.2550 karena melemahnya dollar AS pada hari Jumat, GBP/USD tetap berada dalam tekanan bearish dan diperdagangkan di sekitar 1.2547 pada awal perdagangan sesi AS. Namun dengan inflasi dari konsumen meningkat relatif sesuai dengan yang diperkirakan dan dollar AS melemah, GBP/USD akhirnya bisa ditutup di angka 1.2570.

Secara basis bulanan, core Personal Consumption Expenditures (PCE) index AS naik 0.3% pada bulan Maret. Angka inflasi ini sesuai dengan yang diperkirakan pasar. Inflasi inti selama setahun naik 5.2% sementara pasar memperkirakan kenaikan sebesar 5.3%.

Sementara itu, perkiraan terbaru dari GDP AS kuartal pertama turun 1.4% dibandingkan dengan yang diperkirakan pasar kenaikan 1.0%. Meskipun demikian, angka detilnya tetap kuat dengan Personal Consumption naik 2.7%, Disposable Income naik 4.8% dan Gross Private Investment naik 2.3%. Dengan demikian pertumbuhan permintaan swasta tetap kuat.

Perbedaan kebijakan moneter antara the Fed dengan BoE tetap berjalan dan membuat kenaikan GBP tertahan. Walaupun terjadi kontraksi dalam ekonomi AS sebesar 1.4% di kuartal pertama 2021 memicu aksi ambil untung yang membuat dollar AS tertekan turun pada penutupan minggu lalu sehingga poundsterling bisa mengalami kelegaan, pemulihan dari GBP/USD tetap terkendala.

Pada minggu pertama bulan Mei ini banyak event dan rilis data dari kalender ekonomi, antara lain, keputusan tingkat bunga the Fed dan BoE pada pertengahan minggu dan rilis NFP AS yang akan keluar pada hari Jumat.

Pada hari Senin, perdagangan akan sepi karena pasar Cina dan Inggris tetap tutup memperingati hari Buruh. Likuiditas yang tipis bisa membuat pergerakan yang ekstrim.

Pada hari Selasa, S&P Global Final Manufacturing PMI Inggris dan JOLTS Job Openings AS akan berdampak kecil, sementara pertemuan FOMC the Fed dimulai.

Federal Reserve AS direncanakan akan membuat keputusan mengenai tingkat bunga pada hari Rabu dan telah mengunci dirinya sendiri kepada siklus kenaikan tingkat bunga yang agresif selama tiga kali pertemuan yang akan datang. Pasar telah memperhitungkan dalam harga kenaikan tingkat bunga sebanyak 250 basis poin selama 12 bulan ke depan. Untuk bulan Juli, investor akan memperhatikan petunjuk-petunjuk yang keluar dengan kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps sudah dalam perencanaan.

Pasar menantikan dua hal yaitu kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps dan dimulainya pengetatan quantitative yang diperkirakan tidak akan terpengaruh dengan penurunan GDP di kuartal pertama yang tidak terduga sebesar 1.4%. Ini adalah kenaikan tingkat bunga yang terbesar selama dua dekade dan akan menjadi permulaan dari siklus pengetatan yang lebih banyak agresif.

Federal Reserve AS akan menekankan pertumbuhan employment yang terus kuat, dampak sementara dari gelombang Omicron dan meningkatnya tingkat pertumbuhan penjualan final ke para pembeli domestik swasta, yang dianggap sebagai ukuran dari permintaan yang lebih baik. Meskipun demikian, dengan tingginya inflasi, tidak ada pilihan lain, kebijakan moneter harus diperketat dengan cepat tanpa peduli ongkos yang harus keluar terhadap ekonomi riil.

Kenaikan tingkat bunga the Fed sebesar 50 bps akan membuat rentang target tingkat bunga the Fed berada di antara 0.75% – 1%. Sementara kenaikan tingkat bunga BoE sebanyak 25 bps akan juga membuat tingkat bunga BoE berada di 1%.

Pada minggu ini, selain ada pertemuan FOMC the Fed, Bank of England juga akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya sementara AS akan mempublikasikan laporan Nonfarm Payrolls pada hari Jumat. AS diperkirakan akan menambah 400.000 pekerjaan baru di bulan April, sementara tingkat pengangguran diperkirakan stabil di 3.6%.

AS juga akan merilis PMI manufaktur bulan April yang diperkirakan membaik dari 57.1 ke 58.0 dan PMI jasa dari ISM sebesar 59.0.

“Support” terdekat menunggu di 1.2410 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2300 dan kemudian 1.2160. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2600 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2700 dan kemudian 1.2780.

( vibiznews )

Most Popular

Euro Membalik Kerugian saat Dolar AS Terjatuh

Euro pulih pada Kamis dari level terendah dua minggu terhadap dolar, yang tersendat setelah data inflasi baru menunjukkan belanja konsumen AS naik kurang dari...

Harga Minyak Kembali Naik Setelah Terjatuh di Sesi Sebelumnya

Harga minyak naik tipis di awal perdagangan pada hari Jumat, setelah tenggelam di sesi sebelumnya karena OPEC+ mengatakan akan tetap pada rencana kenaikan produksi...

80.000 Miliuner Bitcoin Musnah dalam Kehancuran Besar Kripto 2022

Lebih dari 80.000 investor Bitcoin (BTC) telah dicabut status miliunernya karena penurunan pasar kripto, tetapi harga yang lebih rendah berarti jumlah koin keseluruhan bertambah. Kembali...

Coinbase ingin Ekspansi ke Eropa di tengah Crypto Winter

Coinbase memperluas operasinya ke berbagai negara di Eropa di tengah “crypto winter.” Meskipun memberhentikan banyak karyawan dan membatalkan tawaran pekerjaan, wakil presiden Coinbase Nana...

Recent Comments