Sunday, September 25, 2022
Home Analysis Opini Rekomendasi GBP/USD Mingguan 1 – 5 Agustus 2022: Bisakah Naik ke 1.2500?

Rekomendasi GBP/USD Mingguan 1 – 5 Agustus 2022: Bisakah Naik ke 1.2500?

GBP/USD mengalami keuntungan mingguan untuk yang kedua kalinya berturut-turut, dengan momentum pemulihan terus berlangsung di tengah koreksi yang berkelanjutan dari dolar AS secara luas. Divergensi kebijakan antara the Fed dengan BoE menyempit sementara alarm resesi berdering di AS dan zona Euro. Minggu ini semua mata trader GBP memandang kepada pengumuman tingkat bunga BoE dan laporan Non-Farm Payrolls AS untuk mendapatkan arah pergerakan harga GBP/USD.

Apa yang Terjadi dengan GBP/USD Minggu Lalu?

Setelah dua minggu lalu berhasil naik dari 1.1868 ke 1.2004, GBP/USD pada minggu lalu melanjutkan kenaikannya dengan pada hari Jumat di perdagangkan di sekitar 1.2175.  Kenaikan dari GBP/USD selain disebabkan karena ekspektasi BoE akan menaikkan tingkat bunga 50 bps pada minggu ini, terutama disebabkan karena melemahnya USD secara signifikan, khususnya setelah pertemuan FOMC hari Kamis dimana komentar Jerome Powell di anggap dovish.

Hari Senin, GBP/USD naik ke arah 1.2050 dan diperdagangkan di sekitar 1.2045 di tengah kembalinya arus resiko yang membebani dollar AS yang safe-haven dengan berat. Ketidak pastian politik dan kekuatiran akan resesi tetap berlangsung di tengah ekspektasi kenaikan tingkat bunga BoE sebesar 50 bps pada bulan Agusgtus.

GBP/USD sempat tertekan turun memulai minggu perdagangan yang baru namun pada kerendahan di level 1.1960 pasangan matauang ini menarik pembeli yang membeli dari bawah dan berbalik naik pada jam perdagangan sesi Eropa sampai kepada sesi AS.

Angka PMI Inggris pada hari Jumat minggu lalu yang muncul lebih baik daripada yang diperkirakan telah meneguhkan pasar akan pertaruhan kenaikan tingkat bunga Bank of England sebesar 50 bps pada bulan Agustus. Hal ini terus menjadi pendorong naik Poundsterling Inggris.

Sebaliknya dollar AS terus berjuang untuk mendapatkan daya tariknya kembali dan diperdagangkan turun ke level terendah sejak tanggal 5 Juli. Kombinasi faktor-faktor ini telah mendorong pasangan matauang GBP/USD naik, meskipun kenaikan dibatasi oleh masalah Brexit dan kekuatiran akan perlambatan ekonomi global.

Hari Selasa, GBP/USD sempat memperpanjang kerugiannya di bawah 1.2000, jatuh dari ketinggian selama 3 minggu di 1.2091. Arus yang enggan terhadap resiko kembali mendominasi pasar dan membangkitkan permintaan akan dollar AS yang safe – haven. Namun dalam perdagangan selanjutnya pada sesi AS, GBP/USD berhasil bangkit naik ke atas 1.2000 dan diperdagangkan di sekitar 1.2025.

Meningkatnya ketakutan mengenai kemungkinan terjadinya resesi global terus membebani sentimen investor dan memberikan dukungan naik terhadap dollar AS yang safe – haven. Namun pelarian ke assets investasi yang aman ini memicu penurunan dari yields obligasi treasury AS, yang bisa membatasi kenaikan dari dollar AS yang pada gilirannya membuat GBP/USD terangkat ke atas.

Selain itu, ekspektasi akan kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps oleh Bank of England pada bulan depan juga memberikan dorongan naik bagi Poundsterling Inggris dan pada gilirannya memberikan dukungan naik terhadap pasangan matauang GBP/USD.

Fokus pasar saat ini tetap ada pada hasil pertemuan kebijakan moneter FOMC the Fed yang akan berlangsung mulai hari Rabu (waktu AS). Bank sentral AS ini secara luas diperkirakan akan menaikkan tingkat bunganya sebesar 75 bps dan meninggalkan pintu terbuka untuk kenaikan – kenaikan selanjutnya.

Hari Rabu, GBP/USD sempat memperpanjang rally-nya ke ketinggian selama 3 minggu di atas 1.2170 selama jam perdagangan sesi AS, sebelum akhirnya turun sedikit ke 1.2155. Setelah keputusan pertemuan FOMC the Fed yang menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 75 bps, pernyataan ketua FOMC Jerome Powell yang relatif dovish telah membebani dollar AS dengan berat.

Sebelum keluar pengumuman FOMC the Fed, GBP/USD telah berhasil membatasi kerugiannya bawah level resistance kunci di 1.2070 yang berhasil dibuat menjadi level support meskipun dollar AS menguat dari sejak hari Selasa dan lanjut ke hari Rabu. Pasangan matauang ini diperdagangkan sedikit di setelah keluarnya pengumuman FOMC the Fed.

Meskipun dollar AS berhasil mengkapitalisasi arus safe – haven pada hari Selasa, pertaruhan akan hawkishnya Bank of England (BoE) telah membuat Poundsterling Inggris tetap tangguh menghadapi rival-rival utamanya. Kenaikan tingkat bunga oleh BoE di bulan Agustus hampir sepenuhnya diperhitungkan dalam harga dan mayoritas responden yang mengambil bagian di dalam polling Reuters memperkirakan tingkat bunga BoE akan menjadi 2.25% pada akhir tahun 2022, dibandingkan sebelumnya hanya sampai kepada 1.75%.

Pada hari Kamis, GBP/USD terus diperdagangkan di teritori negatip, berjuang untuk bisa naik menembus 1.2150 setelah sebelumnya sempat turun mencoba mengetes 1.2100, meskipun dollar AS sendiri harus berjuang mengumpulkan kekuatannya setelah keluarnya data ekonomi AS yang mengecewakan.

Setelah sempat naik ke level tertinggi di dalam satu bulan di 1.2191 pada awal hari perdagangan, GBP/USD memasuki fase konsolidasi selama jam perdagangan sesi Eropa. Sentimen pasar yang berhati-hati membatasi kenaikan dari pasangan matauang ini.

GBP/USD berhasil naik dari kerendahan mendekati 1.2100, dan diperdagangkan di sekitar 1.2141dengan Dollar AS berbalik kembali melemah setelah munculnya data GDP AS kuartal ke dua yang lemah.

AS mempublikasikan data makro ekonominya, GDP kuartal kedua yang meleset dari yang diperkirakan pasar.  Departemen Perdagangan AS pada hari Kamis mengatakan bahwa GDP AS jatuh 0.9% pada kuartal ke dua, lebih buruk dari perkiraan pasar yang mengatakan kenaikan sebesar 0.4%. Sementara itu, penurunan dalam aktifitas ekonomi AS di kuartal ke dua ini muncul setelah GDP AS kuartal pertama juga terkontraksi sebesar 1.6%.

Selain itu juga dipublikasikan Initial Jobless Claims muncul sebanyak 256.000 pada minggu yang berakhir tanggal 22 Juli, lebih buruk daripada yang diantisipasikan oleh pasar sebanyak 253.000.

Pada hari Jumat, GBP/USD berbalik naik tajam pada jam perdagangan sesi AS. Kenaikan pasangan matauang GBP/USD ini ke atas 1.2150 di sekitar 1.2175 terjadi karena aksi jual yang melanda dollar AS akibat keluarnya laporan inflasi AS yang mengkuatirkan. Indeks dollar AS (DXY) jatuh menembus support 5 hari berturut di 106.06.

Departemen Perdagangan AS pada hari Jumat mengatakan bahwa secara basis bulanan, indeks core Personal Consumption Expenditures (PCE) bertambah menjadi 0.6% pada bulan lalu. Data inflasi ini lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar kenaikan sebesar 0.5%. Secara basis tahunan core PCE meningkat 4.8% dari angka bulan sebelumnya di 4.7%.

BoE dan Non-Farm Payrolls AS

Dengan telah keluarnya keputusan yang paling penting mengenai tingkat bunga dari the Fed, investor GBP sekarang memandang dengan seksama keputusan tingkat bunga BoE dan laporan Non-Farm Payrolls AS yang akan memberikan dampak yang signifikan bagi pergerakan Poundsterling minggu ini.

Selain itu, pada hari Senin, akan dipublikasikan S&P Global Manufacturing PMI Inggris yang akan diikuti oleh ISM Manufacturing PMI AS. Data PMI dari AS ini akan diamati dengan seksama terutama setelah keluarnya angka Preliminary dari S&P Global Manufacturing PMI yang buruk.

Pada hari Selasa, hanya muncul data JOLTS Job Opening dari AS. Pada hari Rabu akan dipublikasikan angka S&P Global Services Inggris yang final dan ISM PMI Jasa AS selain data Factory Orders AS.

Pada hari Kamis tanggal 4 Agustus adalah “Super Thursday” dimana Bank of England (BoE) akan mengumumkan kenaikan tingkat bunganya yang diperkirakan akan sebesar 50 bps. Keputusan mengenai tingkat bunga ini akan diikuti dengan dikeluarkannya risalah pertemuan dan konferensi pers oleh Gubernur BoE Andrew Bailey. Beberapa bagian dari berita ekonomi Inggris yang baru-baru ini muncul dengan angka yang bagus diperkirakan akan melonggarkan tekanan terhadap BoE sehingga BoE bisa memerangi inflasi tanpa harus kuatir dengan ketidakpastian akan pertumbuhan ekonomi Inggris. Pemulihan Poundsterling selanjutnya akan tergantung kepada seberapa kenaikan tingkat bunga yang akan diputuskan oleh bank sentral Inggris ini.

Selain itu pada hari Kamis, AS akan mempublikasikan data Jobless Claims mingguannya, yang semakin diperhatikan setelah klaim pengangguran terakhir muncul di level tertinggi dalam tahun ini, walaupun masih di bawah level kunci 300.000. Data pekerjaan AS yang memburuk bisa membuat ketua the Fed Jerome Powell berada pada titik yang sulit.

Minggu ini akan diakhiri dengan data AS yang kritikal yaitu laporan Non-Farm Payrolls AS, yang menjadi kunci untuk mengukur perkiraan pengetatan yang akan dilakukan oleh the Fed pada bulan – bulan yang akan datang.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di 1.2141 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2100 dan kemudian 1.2000. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2200 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2280 dan kemudian 1.2400.

( vibiznews )

Most Popular

Rupiah Jumat Ditutup Melemah ke Rp15.037/USD; Dollar di Eropa Perkasa 2 Dekade Lebih Tertingginya

Dalam pergerakan pasar uang akhir pekan Jumat sore ini (23/9), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau ditutup melemah di hari keenamnya, menambah sedikit loss...

Harga Gula Naik Ke Tertinggi 1 Minggu

Harga gula pada penutupan pasar hari Kamis naik. Harga gula di New York naik tertinggi 1 minggu. Naiknya harga minyak mentah pada hari Kamis...

Harga Kedelai Turun, Indeks Dolar AS Menguat

Harga kedelai pada hari Kamis turun karena menguatnya indeks dolar AS. Penjualan pada minggu lalu turun karena harga kedelai dari luar AS lebih murah.  Menguatnya...

Stabilitas Nilai Tukar Rupiah Tetap Terjaga Di Tengah Ketidakpastian Pasar Keuangan Global

Saat menyampaikan keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan BI7DRR, Gubernur BI menyampaikan juga beberapa hal penting. Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap...

Recent Comments