Sunday, September 25, 2022
Home Berita Komoditas Rekomendasi Emas Mingguan 8 – 12 Agustus 2022: Berat untuk Bullish Lagi?

Rekomendasi Emas Mingguan 8 – 12 Agustus 2022: Berat untuk Bullish Lagi?

Minggu lalu keluar laporan situasi employment AS bulan Juli dengan angka yang sangat mengejutkan kuatnya yang menjadi “game – changer” bagi harga emas. Harga emas turun 1% sebagai reaksi terhadap laporan Non-Farm Payrolls AS ini. Setelah naik sampai ke arah $1,800 per ons pada hari Kamis minggu lalu, harga emas pada hari Jumat minggu lalu berbalik turun tajam ke $1,788 per ons. Minggu ini fokus pasar ada pada data inflasi AS yang akan keluar pada hari Rabu dan Kamis.

Naik Tinggi & Turun Tajam

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $1,762, harga emas mengalami rally dalam minggu lalu karena terus melemahnya dollar AS. Harga emas sempat naik ke ketinggian bulanan yang baru yang hampir mencapai $1,800 di dekat $1,790 per ons pada hari Kamis di tengah turunnya yields obligasi AS secara tajam. Namun mengakhiri hari perdagangan minggu lalu pada hari Jumat, harga emas turun tajam ke $1,778 karena naiknya USD secara signifikan setelah keluarnya laporan NFP AS bulan Juli yang secara mengejutkan naik dua kali lipat dari yang diperkirakan dengan penambahan sebanyak 528.000 pekerjaan yang mendorong naik USD dengan tajam.

Pergerakan Harian

Harga emas naik pada awal perdagangan sesi AS hari Senin, dengan sempat menyentuh ketinggian selama tiga minggu di $1,779.20 sebelum akhirnya turun kembali sedikit. Terlihat aksi “short-covering” dari para traders futures di pasar berjangka, sementara para trader di pasar tunai melakukan aksi “perceived bargain-basement buying” pada saat harga emas turun menyentuh kerendahan selama 15 bulan.

Emas berjangka kontrak bulan Oktober naik $7.40 ke $1,769.90 per troy ons.

Harga emas naik dan sempat menyentuh ketinggian dekat empat minggu pada awal perdagangan sesi AS hari Selasa karena meningkatnya permintaan safe – haven di tengah keengganan terhadap resiko yang mendominasi pasar.

Emas berjangka kontrak bulan Oktober naik $11.20 ke $1,780.70 per troy ons.

Harga emas turun pada awal perdagangan sesi AS hari Rabu karena meningkatnya minat terhadap resiko dengan meredanya kecemasan akibat mendaratnya Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan kemarin malam.

Emas berjangka kontrak bulan Oktober turun $21.10 ke $1,758.90 per troy ons.

Harga emas naik pada awal perdagangan sesi AS hari Kamis karena permintaan safe – haven dengan meningkatnya ketegangan antara AS dengan Cina pada minggu ini. Sebagian aksi “short-covering” di pasar berjangka dan sebagian pembelian yang baru berdasarkan analisa grafik terjadi dengan postur tehnikal jangka pendek dari emas membaik pada minggu ini.

Emas berjangka kontrak bulan Oktober naik $30.10 ke $1,788.70 per troy ons.

Harga emas turun tajam pada awal perdagangan sesi AS hari Jumat, karena laporan employment – NonFarm Payrolls AS yang muncul dengan kuat secara mengejutkan sehingga bisa memaksa Federal Reserve AS untuk bahkan menjadi lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneternya.

Indeks dollar AS dan yields treasury AS melompat naik karena berita mengenai pekerjaan AS ini yang pada gilirannya mendorong turun harga emas.

Emas berjangka kontrak bulan Oktober turun $12.80 ke $1,776.40 per troy ons.

Angka Employment AS yang Mengejutkan Kuatnya

Keluarnya angka Non-Farm Payrolls AS pada hari Jumat minggu lalu yang mengejutkan kuatnya akan membuat Federal Reserve AS tidak akan berpindah dari siklus pengetatannya yang agresif pada bulan September. Pemikiran bahwa the Fed akan tetap agresif dalam menaikkan tingkat suku bunga utamanya akan memukul harga emas dalam jangka pendek.

Minggu lalu, ada banyak keyakinan di pasar bahwa the Fed akan berpindah lebih awal dari menaikkan tingkat bunga yang terlalu tinggi karena melambatnya ekonomi AS. Namun, semua keyakinan tersebut lenyap pada hari Jumat minggu lalu dengan keluarnya laporan pekerjaan AS yang sangat kuat.

Laporan Non-Farm Payrolls yang tidak terduga ini menjadi “game – changer”. Sebelumnya keyakinan bahwa the Fed pasti akan berpindah dari siklus pengetatannya yang agresif, adalah sangat tinggi. Sebagian bahkan memperkirakan hal ini akan terjadi pada September bulan depan.

Sekarang, dengan keluarnya angka NFP dua kali lipat dari yang diperkirakan pasar, fokus pasar jadi bergerak kepada apakah the Fed malah justru harus bergerak lebih agresif? Emas akan harus berjuang berat disini dengan ekspektasi pasar didorong kuat untuk lebih percaya bahwa the Fed akan tetap menaikkan tingkat bunganya dengan tinggi pada pertemuan mereka berikutnya.

Dengan pasar menghitung ulang dalam harga dengan ekspektasi the Fed akan melakukan lebih banyak kenaikan tingkat suku bunganya, hal ini menjadi tantangan berat bagi emas. Terlebih lagi setelah emas mencoba naik ke atas menembus $1,800 dan gagal pada minggu lalu. Akan sulit bagi harga emas untuk melanjutkan kenaikannya. Setelah bergerak naik dari $1,700 ke $1,800 dalam sekali gerak, kelihatannya saat ini emas sudah sedikit kelelahan.

Meskipun demikian, turun tajamnya harga emas pada hari Jumat minggu lalu, tidak berarti akan menjadi suatu aksi jual yang signifikan ke arah $1,700 per ons. Zona $1,750 – $1,770 adalah level support yang kuat bagi harga emas.

Fokus pada Angka Inflasi

Perhatian pasar paling utama pada minggu ini ada pada laporan inflasi AS bulan Juli dengan para ekonom memproyeksikan angka Consumer Price Index (CPI) AS tahunan akan muncul di 8.7% setelah meningkat dengan cepat ke 9.1% pada bulan Juni. Setiap kejutan angka di atas angka yang diperkirakan konsensus pasar akan menjadi faktor yang negatip bagi harga emas.

Minggu ini semuanya adalah mengenai inflasi. Tekanan kenaikan harga bisa jadi tetap kuat dan tinggi. Hal ini berarti yields treasury AS akan bisa naik lebih tinggi dan dollar AS akan mengalami minggu yang baik pada minggu ini. Pasar akan bisa cemas disini dengan aksi jual obligasi AS bisa meningkat, yang tidak pernah baik bagi emas yang tidak ada penghasilan bunganya.

Jika inflasi muncul lebih tinggi daripada yang diperkirakan, pasar akan mengantisipasikan kenaikan tingkat bunga the Fed pada bulan September sebesar 75 bps dan bahkan mulai memperhitungkan dalam harga kenaikan tingkat bunga sampai 100 bps.

Pada titik ini, setiap berita makro yang positip adalah kabar buruk bagi pasar karena ekspektasi di sekitar apa yang akan dilakukan oleh the Fed sebagai responnya.

Semakin kuat ekonomi kelihatannya, semakin leluasa bagi the Fed untuk menjadi lebih agresif dalam menaikkan tingkat bunganya. Sebagai contoh, kalau saja laporan pekerjaan AS hari Jumat kemarin tidak sekuat seperti yang dilaporkan, maka the Fed akan lebih cenderung untuk berpindah dan memperlambat kenaikan tingkat bunganya dan bahkan berhenti sejenak. Setiap ada kabar ekonomi yang bagus, ini akan menggerakkan dollar AS naik seperti pada hari Jumat minggu lalu.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di $1,769 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,750 dan kemudian $1,722.

“Resistance” terdekat menunggu di $1,779 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,801 dan kemudian $1,825.

( vibiznews )

Most Popular

Rupiah Jumat Ditutup Melemah ke Rp15.037/USD; Dollar di Eropa Perkasa 2 Dekade Lebih Tertingginya

Dalam pergerakan pasar uang akhir pekan Jumat sore ini (23/9), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau ditutup melemah di hari keenamnya, menambah sedikit loss...

Harga Gula Naik Ke Tertinggi 1 Minggu

Harga gula pada penutupan pasar hari Kamis naik. Harga gula di New York naik tertinggi 1 minggu. Naiknya harga minyak mentah pada hari Kamis...

Harga Kedelai Turun, Indeks Dolar AS Menguat

Harga kedelai pada hari Kamis turun karena menguatnya indeks dolar AS. Penjualan pada minggu lalu turun karena harga kedelai dari luar AS lebih murah.  Menguatnya...

Stabilitas Nilai Tukar Rupiah Tetap Terjaga Di Tengah Ketidakpastian Pasar Keuangan Global

Saat menyampaikan keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan BI7DRR, Gubernur BI menyampaikan juga beberapa hal penting. Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap...

Recent Comments