Wednesday, August 10, 2022
Home Berita Komoditas Rekomendasi Emas Mingguan 25 – 29 Juli 2022: Bisakah Survive Menghadapi Kenaikan...

Rekomendasi Emas Mingguan 25 – 29 Juli 2022: Bisakah Survive Menghadapi Kenaikan Bunga the Fed 75 bps?

Pasar emas mengakhiri kerugian selama 5 minggu berturut-turut pada akhir minggu lalu. Sementara sentimen pasar kelihatannya sedang bergeser, emas masih akan menghadapi lingkungan yang menantang pada minggu ini yaitu kenaikan tingkat bunga the Fed sebesar 75 bps.

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $1,706, emas berhasil mengakhiri hari Jumat minggu lalu dengan kenaikan ke $1,727, lebih dari 1% kenaikan dalam seminggu. Pada hari Senin harga emas naik ke $1,713 dengan melemahnya USD. Pada hari Selasa harga emas stabil dan pada hari Rabu tertekan ke $1,704 karena USD sempat berbalik menguat. Pada hari Kamis sempat melanjutkan penurunannya ke $1,689 sebelum akhirnya naik kembali ke $1,713 karena ECB menaikkan tingkat bunga yang berakibat tertekan turunnya USD. Pada hari Jumat melanjutkan kenaikannya ke $1,727 per ons.

Pergerakan Harga Emas Minggu Lalu

Harga emas diperdagangkan naik pada awal perdagangan sesi AS hari Senin. Faktor bullish di luar pasar emas yaitu turunnya indeks dollar AS dan naiknya harga minyak mentah membantu mengangkat harga emas memulai minggu perdagangan yang baru. Kurangnya berita geopolitik dan data ekonomi penggerak pasar yang baru pada awal minggu membuat para trader mencari arahan untuk pergerakan harga emas dari luar pasar emas.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus naik $7.20 ke $1,713.50 per troy ons.

Harga emas diperdagangkan stabil pada awal perdagangan sesi AS hari Selasa. Turunnya indeks dollar AS secara signifikan dan naiknya harga minyak mentah pada minggu lalu membatasi minat jual terhadap emas.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus stabil di $1,713.70 per troy ons.

Harga emas melemah pada awal perdagangan sesi AS hari Rabu, di tengah perdagangan yang sepi. Berbalik menguatnya indeks dollar AS pada pertengahan minggu dan melemahnya harga minyak mentah adalah faktor bearish di luar pasar emas yang membebani harga emas.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus turun $9,40 ke $1,704.00 per troy ons.

Harga emas sempat tertekan turun ke $1,689.60 pada awal perdagangan sesi AS hari Kamis karena turun tajamnya harga minyak mentah dan naiknya yields treasury AS. Harga emas menyentuh ke rendahan selama 15 bulan dalam perdagangan semalam namun dalam jam perdagangan selanjutnya berhasil bangkit sedikit dari kerendahannya dan diperdagangkan naik.

Harga emas berhasil naik dari kerendahannya dengan berkurangnya kekuatan dollar AS setelah European Central Bank (ECB) mengambil langkah agresif dengan menaikkan tingkat bunganya lebih dari yang diperkirakan.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus naik $9.60 ke $1,713.00 per troy ons.

Harga emas pada hari Jumat melanjutkan koreksi kenaikannya setelah terus mendapatkan tekanan aksi jual belakangan ini. Aksi “short-covering” dari para trader berjangka juga kelihatan pada akhir minggu ini.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus naik $814.30 ke $1,727.50 per troy ons.

Semua Mata Tertuju Ke FOMC the Fed

Fokus pasar pada minggu ini ada pada Federal Reserve dimana diperkirakan bank sentral AS ini akan menaikkan tingkat suku bunga kuncinya sebesar 75 bps. Meskipun dollar AS telah turun dari ketinggian selama 20 tahun belakangan ini, sikap Federal Reserve yang agresif ini kemungkinan akan terus mendorong naik dollar AS.

The Fed kemungkinan tidak hanya akan menaikkan tingkat bunganya sebesar 75 bps, tapi juga kemungkinan akan memberikan signal bahwa bank sentral AS ini belum selesai dengan penyesuaian-penyesuaian selanjutnya. Dengan latar belakang Fed yang masih hawkish dan melambatnya pertumbuhan ekonomi global, kelihatannya dollar AS masih akan melanjutkan penguatannya secara luas. Sekalipun harga emas masih memiliki ruang untuk naik pada minggu ini, keputusan bank sentral AS the Fed untuk menaikkan tingkat bunganya sebesar 75 bps bisa membatasi kenaikan dari harga emas sehingga emas harus berjuang untuk bisa naik di atas $1,750 per ons.

Peluang Kenaikan Harga Emas

Hasil pertemuan FOMC the Fed tidak sepenuhnya akan membuat dollar AS meneruskan penguatannya, terutama apabila the Fed tidak sampai menaikkan tingkat bunganya sebesar 100 bps. Apabila keputusan FOMC the Fed hanya menaikkan tingkat bunganya sebesar 75 bps, indeks dollar AS kemungkinan tidak bergerak naik dan bahkan bisa malah bergerak turun.

Hal ini disebabkan karena pasar sudah terlebih dahulu memperhitungkan kenaikan tingkat bunga the Fed pada minggu ini sebesar 75 bps dalam perhitungan harganya. Ini yang sering terjadi di dalam perdagangan dengan pasar membeli rumor dan menjual fakta – buy the rumour sell the fact.

Selain itu pertemuan FOMC the Fed pada minggu ini kurang bobotnya dibandingkan dengan beberapa pertemuan sebelumnya dimana the Fed juga menaikkan tingkat bunganya. Bisa jadi pertemuan dan keputusan FOMC the Fed kali ini tidak membuat dollar AS mengalami aksi jual namun juga tidak membuat dollar AS naik tinggi. Bisa jadi dampak dari keputusan the Fed kali ini akan bersifat netral terhadap dollar AS.

Jika hal ini yang terjadi, maka emas memiliki banyak ruang untuk naik pada minggu ini. Terlebih lagi apabila pasar dilanda ketakutan akan bertambahnya peluang terjadinya resesi yang membuat Federal Reserve AS terpaksa segera mengakhiri siklus pengetatannya. Dalam lingkungan pasar yang seperti ini, emas mendapatkan dukungan naik yang kuat.

Harga emas berpeluang naik dengan ketakutan akan resesi global membuat pasar menghitung ulang ekspektasi akan diteruskannya kenaikan tingkat bunga oleh seluruh bank sentral utama dunia. Emas mulai berperilaku sebagai safe-haven pada saat pertumbuhan ekonomi dunia melemah yang membuat para bank sentral utama dunia meninggalkan rencana pengetatan yang agresif.

Dalam kondisi pasar seperti ini, emas kemungkinan akan menghadapi level resistance yang kuat di $1,750 yang apabila berhasil ditembus, akan bisa terus naik ke level $1,800 per ons.

Data Ekonomi AS Mengarah ke Resesi

Data dari S&P Global Market Intelligence pada hari Jumat minggu lalu menunjukkan bahwa aktifitas sektor manufaktur dan jasa AS jatuh ke level terendah dalam dua tahun.

PMI manufaktur AS bulan Juli muncul di 52.3, turun dari sebelumnya di 52.7 dan lebih lemah dibandingkan dengan yang diperkirakan di 52.5. PMI jasa AS bulan Juli muncul di 47.0, lebih lemah dibandingkan dengan yang diperkirakan di 52.1.

Penurunan aktifitas yang sama terjadi juga di Eropa. S&P Global menunjukkan bahwa aktifitas bisnis di sektor swasta Jerman terkontraksi pada awal Juli.

Pasar sepertinya sedang merasakan bahwa siklus kenaikan tingkat bunga dari para bank sentral akan segera berakhir karena cepatnya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Pada hari Kamis minggu ini, pasar juga menantikan dengan cemas untuk melihat apakah AS telah jatuh ke dalam resesi secara tehnikal dengan akan dipublikasikannya angka pertama dari GDP AS kuartal ke dua. Banyak yang mengabaikan melemahnya GDP AS kuartal pertama dengan anggapan sebagai ketidak seimbangan perdagangan, namun data dari Federal Reserve Atlanta menunjukkan bahwa GDP kuartal ke dua akan terkontraksi 1.6%, yang sesuai dengan penurunan atau kontraksi di kuartal pertama. Secara definisi tradisional sebuah negara dianggap sudah berada pada kondisi resesi apabila GDP dua kuartal berturut-turut terkontraksi. Pada minggu lalu Bank of America mengatakan bahwa mereka memprediksi AS akan masuk ke resesi tahap awal pada akhir tahun ini.

Krisis Di Eropa

Sementara perlu diperhatikan kondisi di AS sehubungan dengan keputusan the Fed pada minggu ini, perlu juga memperhatikan kondisi di Eropa. Ketidak pastian geopolitik sedang melanda Eropa. Pada hari Kamis minggu lalu, Itali masuk ke dalam kekacauan politik setelah Perdana Menteri Mario Draghi mengundurkan diri karena kehilangan dukungan.

Pada hari Kamis minggu lalu European Central Bank (ECB) mengambil langkah agresif dengan menaikkan tingkat bunganya lebih dari yang diperkirakan. ECB mengikuti tren dari pengetatan global dan menaikkan tingkat bunga resmi untuk pertama kalinya sejak 2011. Kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps dibandingkan dengan yang diperkirakan dalam konsensus sebesar 25 bps, mendukung naik mata uang bersama Eropa sehingga mengangkat naik pasangan matauang EUR/USD, namun pada saat yang bersamaan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara di Eropa.

Pasar akan memperhatikan angka GDP kuartal ke dua Jerman yang akan dipublikasikan pada hari Jumat minggu ini untuk mengukur perlambatan ekonomi di Jerman. GDP kuartal ke dua Jerman diperkirakan akan turun dari sebelumnya 0.2% menjadi 0.1% QoQ.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di $1,711 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,700 dan kemudian $1,673.

“Resistance” terdekat menunggu di $1,735 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,750 dan kemudian $1,800.

( vibiznews )

Most Popular

Circle Bekukan Alamat Tornado Cash yang Masuk Blacklist

Agregator data kripto Dune Analytics mengatakan bahwa, pada hari Senin, Circle, penerbit stablecoin USD Coin (USDC), membekukan dana senilai lebih dari 75.000 USDC yang...

Reserve Bank of Australia Akan Mengeksplorasi Kasus Penggunaan untuk CBDC

Reserve Bank of Australia mempertimbangkan perlombaan mata uang digital bank sentral (CBDCs) untuk mengeksplorasi kasus penggunaan CBDC di negara tersebut. Ini akan berkolaborasi dengan...

Rupiah Rabu Siang Melemah ke Rp14.872/USD; Koreksi Paska 2 Hari Rally

Dalam pergerakan pasar uang Rabu siang ini (10/8), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau melemah, menambah sedikit loss sesi paginya, sementara dollar AS di...

Harga Tembaga Naik ke Tertinggi 1 bulan

Harga tembaga naik ke tertinggi 1 bulan pada hari Selasa. Permintaan meningkat dan melemahnya dolar AS.   Harga tembaga di London Metal Exchange naik 0.3 %...

Recent Comments