Sunday, June 20, 2021
Home Berita Forex Proyeksi Pergerakan Poundsterling Tahun 2021; Hadapi Tekanan Lanjutan Covid-19 dan Brexit

Proyeksi Pergerakan Poundsterling Tahun 2021; Hadapi Tekanan Lanjutan Covid-19 dan Brexit

Tahun 2020 merupakan tahun pergerakan yang sangat ekstrem bagi  pasar forex, demikian dengan pergerakan mata uang Inggris atau poundsterling yang sempat anjlok ke posisi terendah sejak 1985 pada perdagangan 18 Maret 2020. Wabah virus corona yang ditetapkan menjadi pandemi oleh WHO sejak 11 Maret 2020 menjadi pemicu utama anjlok parahnya mata uang dunia termasuk poundsterling.

Kemudian poundsdterling dalam pair GBP/USD bergerak pulih dan naik ke posisi tertinggi sejak April 2018 pada bulan Desember ini. Bagaimana dengan pergerakan mata uang poundsterling di pasar forex tahun 2021, ditengah pergerakan pasar akan  didorong oleh seberapa cepat kepercayaan investor terbangun dalam pemulihan global pasca-pandemi?

Fokus pergerakan poundsterling pada tahun 2021 yang perlu diperhatikan investor adalah perkembangan kasus covid-19 serta pengaruh vaksin, dampak Brexit terhadap Inggris, kemudian pertumbuhan ekonomi Inggris yang akan turun pada kuartal 4 tahun 2020 hingga kuartal pertama tahun 2021, dan pergerakan dolar AS.

Review Pergerakan GBP/USD 2020

  1. Lonjakan kasus covid-19 di Inggris dan sikap panik pasar merespon kasus yang sama menjalar ke seluruh dunia. Pada saat itu korban kematian Inggris akibat wabah coronavirus naik 55% dalam satu hari menjadi 104, yang menyoroti salah kebijakan pemerintah Inggris mengatasi pandemi saat itu. Tanggal 18 Maret tekanan terhadap poundsterling paling besar hingga anjlok 4% lebih terjun ke kisaran 1.1440 yang merupakan posisi terendah sejak 1985.
  2. Bank sentral Inggris (BOE) memangkas suku bunga secara darurat sebanyak 2 kali dalam bulan yang sama. Pertama memutuskan menurunkan suku bunga sebesar 50bps ke 0,25%,  sepekan kemudian memangkas suku bunga ke posisi 0,1% yang merupakan suku bunga terendah sepanjang sejarah. Alasan BOE demi membantu mendukung bisnis dan kepercayaan konsumen pada kondisi yang sedang sulit menghadapi virus corona. Saat  itu poundsterling anjlok 1% lebih dan sempat turun hingga posisi 1.1410.
  3. Tekanan pada dolar AS sebagai safe haven berhasil mengangkat posisi poundsterling  ke atas kisaran 1.2000 pada bulan April. Posisi dolar AS kemudian berlanjut melemah merespon data PDB Amerika Serikat kuartal kedua anjlok ke posisi kontraksi -32,9%. Pair mendaki merespon pulihnya kekuatan ekonomi China dan  membaiknya perkembangan kasus virus corona di empat negara dengan perekonomian terbesar di Eropa. Laju pemulihan pair terus bergerak hingga masuki kuartal ketiga tahun 2020.
  4. Optimisme negoisasi perdagangan post-Brexit yang diperpanjang sampai Natal memberikan sentimen positif lanjutan bagi pergerakan poundsterling hingga kemudian mendaki ke 1.3400 pada tanggal 4 Desember yang merupakan posisi tertinggi sejak bulan Mei 2018.

Gambar 1: Chart Pergerakan GBP/USD Sepanjang 2020

Dari review sepanjang tahun 2020 beberapa permasalahan yang menjadi pemberat sentimen bagi pergerakan poundsterling dalam pair GBP/USD yang perlu diperhatikan pada tahun 2021 adalah:

  1. Pandemi virus corona menghantam pasar global; gelombang pertama penyebaran virus corona paling besar terjadi di kawasan Eropa yang bermula dari negara Italia pada akhir bulan Februari. Minggu-minggu berikutnya mulai menyebar keseluruh Eropa termasuk Inggris.

    Kasus harian pertama terjangkit virus di Inggris pada 15 Februari dengan 9 kasus baru,      terus  meningkat dengan moderat sampai minggu pertama bulan Maret. Masuki minggu      kedua bulan Maret jumlah kasus baru melonjak hingga belasan ribu kasus, dan terus          melonjak hingga ratusan ribu kasus baru per hari pada pertengahan bulan Februari.            Sampai pekan terakhir bulan Desember, Inggris masuk dalam daftar peringkat ke-6            jumlah kasus terpapar corona sebanyak 2,188,587 kasus dengan jumlah kematian              69625 kasus.

Gambar 2: Grafik Kasus Virus Corona di Inggris

2. Ekonomi Inggris anjlok akibat covid-19; lonjakan kasus harian di Inggris membuat           pemerintah melakukan lockdown di negerinya dan itu memberi tekanan kuat bagi               kegiatan perekonomian. Selama 2 kuartal berturut, PDB Inggris kontraksi dengan               kuartal pertama tahun 2020 PDB alami kontraksi yang moderat lalu  kuartal  kedua             anjlok hingga -18,8%.

United Kingdom GDP Growth Rate

Gambar 3: Grafik PDB Inggris Secara Kuartalan 

3.  Kebijakan Bank sentral Inggris (BOE) memangkas suku bunga hingga ke posisi rekor; Pada bulan Maret BOE memangkas suku bunganya sebanyak 2 kali sebagai respon mengalirkan uang lebih banyak pada perekonomian yang sedang kesulitan hadapi pandemi. Dalam pertemuan daruratnya di pekan pertama Maret, BOE memangkas suku bungan 50bps ke posisi 0,25%. Kemudian sepekan berikutnya langsung dipangkas ke posisi rekor terendah yaitu 0,1%.

Gambar 4: Grafik Pergerakan Suku Bunga BOE

United Kingdom Interest Rate

Sebagai sentimen positif yang menjadi penggerak kuat pemulihan  poundsterling pasca anjlok ke posisi terendah 35 tahun dan juga bisa dijadikan perhatian pada tahun 2021 adalah:

  1. Pergerakan dolar AS yang melemah sebagai safe haven; posisi dolar AS yang menguat menjadi pemberat pergerakan pair GBP/USD ketika kondisi pasar global kurang kondusif hadapi tekanan pandemi terhadap ekonomi global. Kemudian ketika tanda-tanda pemulihan ekonomi muncul masuk kuartal ketiga, posisi dolar tergerus. Pada tahun 2020 posisi dolar pernah melompat ke posisi tertinggi 18 tahun, kemudian tergerus hingga anjlok ke posisi terendah 2,5 tahun pada awal Desember.

Selain kondisi pasar, pergerakan dolar AS sepanjang tahun 2020 dipengaruhi beberapa        sentimen seperti anjloknya ekonomi AS selama 2 kuartal berturut pada kuartal pertama      alami kontraksi -5% dan kuartal kedua kontraksi ke posisi rekor terendah di -31,4%.          Kemudian posisi dolar AS juga terganggu dengan kebijakan Fed yang cenderung                kompromi dengan kebijakan melonggarkan moneter. Sentimen penggerak dolar AS            selanjutnya yaitu paket stimulus fiskal ekonomi AS dan hasil pemilihan Presiden AS            yang   masih menggantung.

Gambar 5: Grafik Pergerakan dolar AS 

2. Negoisasi perdagangan pasca Brexit disepakati; wacana No-deal Brexit pernah menekan      pergerakan poundsterling sepanjang tahun 2019. Kemudian setelah dilakukan negoisasi      antara pemerintah Inggris dan Brexit, wacana tersebut menjadi pudar kembali. Namun      ketika negoisasi alami hambatan, pair bergerak koreksi. Karena jika terjadi No-deal            Brexit setelah tenggat waktu 31 Desember 2020, maka kondisi perekonomian Inggris          dan juga kawasan Eropa semakin terganggu.

    Akhirnya pada malam Natal tanggal 24 Desember waktu Inggris, PM Boris Jhonson            umumkan telah terjadi kesepakatan antara Uni Eropa dan Inggris terkait perdagangan        pasca Brexit yang kemudian di konfirmasi oleh Presiden Uni Eropa Ursula von der                Leyen.

Proyeksi Poundsterling 2021

Untuk pergerakan poundsterling dalam pair GBP/USD pada tahun 2021 masih akan menghadapi tekanan dari penggerak lemah tahun 2020 hingga semester pertama tahun 2021. Tekanan yang dihadapi secara fundamental:

  1. Lonjakan kasus covid-19 di Inggris yang masih menunjukkan pergerakan naik, apalagi pada pekan ketiga bulan Desember ditemukan varian baru dari virus covid-19 yang tingkat penularannya sangat tinggi. Berita ini telah mengejutkan dunia hingga membuat beberapa negara Eropa dan dunia memberlakukan penutupan perjalanan ke Inggris. Selain itu lonjakan kasus memaksa pemerintah Inggris menetapkan lockdown, dimana setelah melakukan yang pertama pada bulan Maret kemudian kembali pada bulan November selama sebulan dan kemudian lockdown yang ketiga pada pekan ketiga bulan Desember hingga pekan pertama tahun 2021.

2. Dampak Brexit terhadap Inggris; Tahun 2021 merupakan tahun pertama Inggris                menjalani terlepasnya dari Uni Eropa. Selama ini masalah brexit selalu menjadi momok      bagi pergerakan poundsterling, namun telah terjadinya kesepakatan dengan Uni Eropa        dalam perdagangan meringankan beban Inggris jalaninya. Inggris masih menghadapi          kewajiban biaya yang lebih besar untuk berbisnis dengan UE, yang merupakan mitra          perdagangan dan investasi terbesar di negara itu.

Kesepatan perdagangan post-Brexit antara Inggris dan Uni Eropa hanya fokus pada            pembebasan tarif, namun masih ada beban biaya yang akan ditanggung terkait regulasi      perbatasan dan juga kualitas barang. Dari sisi perbatasan, perjalanan cargo tidak              sebebas sebelum brexit sehingga menimbulkan beban biaya.

Masalah brexit lainnya yaitu masalah tenaga kerja yang memperketat tenaga kerja UE,      dimana selama ini paling banyak bekerja di Inggris.  Karenanya diperkirakan akan              terjadi penurunan pendapatan per kapita, perdagangan, serta pendapatan rumah              tangga, dalam kurun waktu dekat dan kurun waktu jauh.

3. Pertumbuhan ekonomi yang kembali menyusut; secara kuartalan PDB Inggris rebound        pada kuartal ketiga tahun 2020, namun pada kuartal keempat 2020 dan kuartal                pertama   tahun 2021 diperkirakan akan turun lagi pasca lockdown yang berkelanjutan        di negara tersebut serta dampak brexit. PDB di perkirakan kuat kembali pada kuartal          kedua tahun 2021.

4. Bank sentral Inggris diperkirakan akan kembali menggelontorkan stimulus dengan terus      melonggarkan kebijakannya apabila kondisi ekonomi Inggris tidak kondusif pasca Brexit.

5. Hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat; jika pada tanggal 20 Januari 2021 Presiden        yang terpilih Donald J Trump maka pergerakan dolar AS akan pulih. Karena kembalinya      Trump menjadi Presiden AS dengan dukungan kuat dari Kongres AS yang dinominasi          partai pendukungnya, paket stimulus ekonomi terbesar senilai $1,8 triliun lebih akan          mendongkrak ekonomi negara ekonomi terbesar pertama dunia tersebut. Pergerakan          kuat dolar AS akan menekan posisi poundstreling selanjutnya.

Untuk pergerakan poundsterling secara teknikal sepanjang tahun 2021, penulis menentukan posisi resisten dan support dari pergerakan chart mingguan GBP/USD dengan indikator SMA 200 dan juga SMA 50 . Pada bulan pertama tahun 2021 poundsterling masih mengikuti trend pekan terakhir tahun 2020. Untuk pergerakan selanjutnya  pair akan bergerak pada kisaran support dalam range 1.3140-1.1970   sampai akhir kuartal kedua tahun 2021.

R3R2R1S1S2S3
1.40101.37301.3540 1.31401.28501.1970

Namun poundsterling dapat naik kembali mendekati kisaran resisten sejalan dengan fundamental yang stabil, dimana pair akan bergerak naik pada kisaran resisten 1.3540 – 1.4010 masuki kuartal ketiga tahun 2021.

Dari gambaran teknikal diatas posisi pergerakan poundsterling akan alami koreksi yang cukup panjang dari pergerakan kuat pekan terakhir tahun 2020 sebelum kemudian akan kembali bergerak kuat jelang akhir tahun 2021.

( vibiznews )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Harga Emas Antam Sudah Turun Rp 24.000, Buyback-nya Anjlok Rp 34.000

Harga emas Antam hari ini berada di level Rp 920.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam hari juga tak...

Dolar AS Kian Perkasa Sikapi Rencana Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dolar AS memperpanjang kenaikan terhadap sekeranjang mata uang pada akhir perdagangan Jumat. Dolar AS menguat setelah rencana Federal Reserve AS mengejutkan pasar...

OPEC Perkirakan Produksi AS Turun, Harga Minyak Naik Jadi USD73,5/Barel

Harga minyak rebound pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah sumber OPEC mengatakan bahwa kelompok produsen minyak memperkirakan pertumbuhan produksi minyak...

Harga Kakao di New York Turun ke Harga Terendah 3 Bulan

Harga kakao pada penutupan pasar hari Kamis mixed, dengan harga kakao di New York turun ke harga 3 bulan terendah, karena panen...

Recent Comments