Friday, September 17, 2021
Home Analysis Opini Prediksi Mingguan EUR/USD 26 – 30 Juli 2021: Bearish Masih Memegang Kontrol?

Prediksi Mingguan EUR/USD 26 – 30 Juli 2021: Bearish Masih Memegang Kontrol?

Memulai minggu perdagangan yang baru, EUR/USD sempat jatuh ke bawah 1.1751, menyentuh level terendah sejak awal April dengan dollar AS memperpanjang kenaikannya ditengah kekuatiran akan naiknya inflasi AS dan penyebaran varian baru Covid, Delta.

Namun EUR/USD berhasil naik dan mencapai 1.18 kembali dan diperdagangkan di 1.1812, dengan yields treasury AS 10 tahun turun ke bawah 1.22%, sehingga mendorong dollar AS kembali turun. Meskipun demikian pada akhir minggu, EUR/USD kembali tertekan dan jatuh ke 1.1771 akibat keputusan ECB yang dovish yang menekan euro ditengah bagusnya sentimen pasar, suatu pertanda juga bahwa bearish sedang dalam kontrol. Investor sedang mencari katalisator untuk naik yang tidak pernah datang.

Data ekonomi minggu lalu sedikit. Event tingkat pertama adalah keputusan kebijakan moneter ECB. ECB tetap mempertahankan kebijakan moneternya tidak berubah, sebagaimana dengan yang telah diperkirakan. PEPP ditegaskan akan diteruskan dengan lebih cepat secara signifikan dibandingkan dengan pada awal tahun. Sikap ECB yang dovish menekan euro.

Pada hari Jumat minggu lalu, Markit IHS mempublikasikan perkiraan sementara dari PMI bulan Juli. Di Uni Eropa, output manufaktur dan jasa membaik dengan lebih daripada yang diperkirakan, PMI Uni Eropa berada di 60.6, lebih baik daripada sebelumnya di 59.5.

Di AS, Federal Reserve sedang ada dalam minggu tenang namun data ekonomi AS membatasi kenaikan dari dollar AS. Weekly Jobless Claims naik ke 400.000 dan New Home Sales meleset dari yang diperkirakan di 5.86 juta pada bulan Juni. Sementara indeks manufaktur membaik ke 63.1, namun PMI jasa tanpa terduga jatuh ke 59.8

AS juga mengalami kenaikan infeksi secara signifikan dan dampaknya terhadap ekonomi telah mengirim saham-saham bertumbangan dan investor berlari ke dollar AS yang aman sebagai safe-haven assets. Sementara saham-saham bangkit, dollar AS tetap bertahan di dalam keuntungannya. Hal ini membebani Euro.

Pada minggu ini, Jerman akan mempublikasikan IFO Business Climate survey pada hari Senin dan preliminary estimate dari inflasi bulan Juli pada hari Kamis. Pada akhir minggu, Jerman akan mengumumkan GDP kuartal kedua, yang diperkirakan berada pada – 1.5%. Uni Eropa juga akan merilis GDP untuk kuartal kedua yang sebelumnya berada pada – 0.3% QoQ.

Bangkitnya kembali virus adalah salah satu pertimbangan kritikal di dalam pertemuan Federal Reserve yang merupakan event utama AS pada hari Rabu minggu ini. Dengan naiknya kembali virus Covid dengan varian baru Delta, kemungkinan the Fed akan mengirimkan pesan yang lebih dovish, yang mendukung pasar dan membebani dollar AS. Jerome Powell, kepala the Fed sudah mengambil sikap seperti ini pada testimoninya di awal bulan Juli. Sementara dia berkata bahwa inflasi telah mencapai ketinggian yang tidak menyenangkan, Powell kelihatannya tidak dalam keadaan terburu-buru untuk menarik stimulus.

Investor melihat symposium Jackson Hole pada akhir Agustus nanti sebagai suatu kesempatan bagi Powell untuk memberikan pengumuman pendahuluan akan pengurangan dukungan, dan para investor sedang mencari petunjuk mengenai hal ini dari sekarang. Kombinasi dari kegelisahan pasar, melemahnya data ekonomi dan meningkatnya penyebaran Delta, bisa membuat Powell kembali memberikan pesan yang berhati-hati.

Terlepas dari keputusan the Fed, data ekonomi AS yang akan keluar pada minggu ini adalah Durable Goods Order untuk bulan Juni yang diperkirakan akan menunjukkan peningkatan di dalam investasi dan angka ini akan membentuk ekspektasi angka GDP yang akan keluar pada hari Kamis.

Angka GDP kuartal kedua diperkirakan akan mengalami kenaikan dimana pertumbuhan setahun akan meningkat menjadi 7.9% dari sebelumnya di kuartal pertama sudah naik dengan kuat sebesar 6.4%. Pembukaan kembali ekonomi yang cepat dan penuh terjadi di dalam semester pertama 2021 sementara di semester kedua ketidak pastina tinggi.

Core Personal Consumption Expenditure (Core PCE) yang menjadi alat ukuran inflasi dari the Fed kemungkinan meningkat pada bulan Juni melampaui 3.4% YoY yang muncul pada bulan Mei.

“Support” terdekat menunggu di 1.1751 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1703 dan kemudian 1.1600. “Resistance” terdekat menunggu di 1.1800 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1840 dan kemudian 1.1885.

( vibiznews )

Most Popular

MoU PT SMI dan Bloomberg Philanthropies Tunjukkan Komitmen Indonesia Transisi ke Energi Bersih

Saat memberikan sambutan pada acara penandatanganan Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) antara PT SMI dan Bloomberg Philanthropies, yang dilakukan secara virtual pada...

Ekspor Indonesia Agustus 2021 Mencapai Rekor Tertinggi US$ 21,42 Miliar

Di tengah pandemi yang masih berlangsung, pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut hal ini dapat dilihat dari nilai ekspor Indonesia terakselerasi positif. Pada...

Harga Karet Naik Dua Hari Berturut-turut

Harga karet kembali naik pada hari Rabu karena data ekonomi yang melemah,lebih lemah dari data ekonomi dan kenaikan kasus virus corona di...

Rupiah Kamis Berakhir Balik Terkoreksi ke Rp14.252/USD; Dollar di Eropa Menanjak, Perhatian ke Pertemuan the Fed

Dalam pergerakan pasar uang Kamis sore ini (16/9), nilai tukar rupiah terhadap dollar berakhir balik terkoreksi, melepas gain sesi siangnya, sementara dollar...

Recent Comments