Sunday, January 23, 2022
Home Berita Ekonomi Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (12 November); Rupiah Rebound Menguat

Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (12 November); Rupiah Rebound Menguat

Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (12/11).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A.  Perkembangan Nilai Tukar 8 – 12 November 2021

Pada akhir hari Kamis, 11 November 2021

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.260 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,16%.
  3. DXY menguat ke level 95,18.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 1,549%.

Pada pagi hari Jumat, 12 November 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.255 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun naik ke level 6,19%.

Aliran Modal Asing (Minggu II November 2021)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke level 84,27 bps per 11 November 2021 dari 79,58 bps per 5 November 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 8-11 November 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp2,79 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp2,39 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,39 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden jual neto Rp16,01 triliun.

B.  Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu II November 2021, perkembangan harga pada November 2021 tetap terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,25% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2021 secara tahun kalender sebesar 1,18% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,63% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi November 2021 sampai dengan minggu II yaitu komoditas telur ayam ras sebesar 0,06% (mtm), minyak goreng sebesar 0,05% (mtm), cabai merah sebesar 0,04% (mtm), daging ayam ras sebesar 0,02% (mtm), sabun detergen bubuk, emas perhiasan dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain tomat, bawang merah dan cabai rawit masing-masing sebesar -0,01% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

( vibiznews )

Most Popular

Harga Minyak Melemah, Meskipun Kekhawatiran Pasokan Membayangi

Minyak turun tipis pada hari Kamis, membukukan kerugian tipis setelah beberapa hari menguat yang mendorong benchmark ke tertinggi tujuh tahun karena kekhawatiran...

Dolar membalikkan kerugian, Terus Menguat

Dolar berfluktuasi tetapi tetap dalam kisaran pada hari Kamis karena lintasan naik minggu ini dari imbal hasil Treasury AS mengambil nafas.

Rekomendasi Minyak 21 Januari 2022: Berbalik Turun karena Meningkatnya Persediaan

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex berbalik turun dan sempat menembus ke bawah $83 ke...

Harga Soft Commodities Mixed Pada Penutupan Pasar Hari Kamis

Pergerakan pasar untuk Soft Commodities pada hari Kamis 20 Januari 2022, Harga Soft Commodities mixed , Harga kopi Arabika turun dari harga...

Recent Comments