Wednesday, June 16, 2021
Home Berita Kripto Koreksi harga bitcoin disebut sebagai tren yang wajar

Koreksi harga bitcoin disebut sebagai tren yang wajar

Setelah berada dalam tren penguatan pada awal tahun, pergerakan Bitcoin mulai berbalik arah. Merujuk Coinmarketcap.com, harga bitcoin terpantau sempat menyentuh US$ 41.000 per BTC pada pekan lalu.

Namun selepas itu justru berada dalam tren koreksi dan sempat  terjun ke US$ 34.000 per BTC.

Kendati demikian, harga Bitcoin kini sudah mulai kembali naik. Teranyar, pada Jumat (15/1) pukul 17.20 WIB, harga Bitcoin sudah berada di level US$ 38.561 per BTC.

Co-founder dari Cryptowatch dan pengelola channel Duit Pintar Christopher Tahir menyatakan, pergerakan harga Bitcoin yang volatile tersebut masih dalam kondisi wajar. Ia menyebut kenaikan parabolik yang terjadi semenjak pertengahan tahun lalu ini justru akan lebih baik jika bisa dijaga risikonya.

“Berkaca dari 2017 silam, ketika terjadi kenaikan parabolik lalu diiringi koreksi 20-30% sebenarnya cukup wajar. Di luar terjadi koreksi, adapun tren positif Bitcoin belakangan ini tidak terlepas dari likuiditas yang saat ini membanjiri pasar,” kata Christopher kepada Kontan.co.id, Jumat (15/1).

Penguatan  Bitcoin juga tidak terlepas dari pembelian masif yang dilakukan oleh investor institusi. Christopher menyebut, institusi seperti Microstrategy, Grayscale, Paypal, Square (milik Twitter). Di satu sisi, aksi JP Morgan yang meng-upgrade outlook bitcoin akan mendorong semakin banyak institusi yang masuk atau menjadikan bitcoin sebagai alat transaksinya.

Oleh karena itu, Christopher meyakini kedua sentimen tersebut masih akan jadi faktor yang mendorong kenaikan harga Bitcoin ke depan. Ia juga menggunakan analisis stock to flow atau persediaan dengan jumlah bitcoin yang dirilis, memperlihatkan trennya cenderung flat menurun. Dus, dengan persediaan yang semakin menipis akan berpotensi menciptakan kelangkaan.

“Tren positif Bitcoin ini juga akan menjadi angin segar bagi mata uang kripto lainnya karena akan ikut kecipratan. Hanya saja kenaikannya cenderung lagging dibandingkan dengan BTC sendiri. Hal ini dikarenakan institusi hanya memercayai beberapa aset kripto utama sebagai tujuan investasinya seperti Bitcoin dan ETH,” tambah Christopher.

Hingga akhir tahun nanti, Christopher percaya harga Bitcoin punya peluang menuju US$ 100.000 – US$ 250.000 per btc. Ia mengungkapkan rentang yang lebar ini dikarenakan periode awal tahun memiliki volatilitas yang tinggi sehingga kemungkinan overshot uptrend juga bisa terjadi.

“Dalam kondisi saat ini, jika investor memang bisa menoleransi risiko kenaikan yang diikuti koreksi 20-30%, maka strategi Dollar cost averaging bisa menjadi pilihan. Namun bila memiliki keahlian yang mumpuni dalam melakukan analisis teknikal, maka bisa dilakukan untuk menilai apakah BTC sudah cukup koreksinya dan membeli di momen yang tepat,” pungkas Christopher.

( investing.com )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Harga Karet Tocom 16 Juni 2021 Masih Tertekan, Karet SHFE Rebound

Harga karet di bursa komoditas internasional masih tertekan pada hari Rabu (16/6/2021), terkecuali perdagangan di bursa SHFE yang alami penguatan. Harga karet...

Surplus Neraca Perdagangan Berlanjut

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia Mei 2021 kembali surplus sebesar 2,36 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan surplus...

Harga Gula Turun ke Harga Terendah 2 1/2 Minggu

Harga gula pada penutupan pasar hari Selasa turun untuk ke empat hari berturut -turut sehingga harga gula di New York turun ke...

Rupiah Rabu Siang Masih Terkoreksi ke Rp14.255/USD; Dollar di Asia Flat Menjelang the Fed

Dalam pergerakan pasar uang Rabu siang ini (16/6), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau masih melemah di hari ketiganya, stabil dari sesi...

Recent Comments