Wednesday, June 23, 2021
Home Berita Forex EUR/USD Review & Outlook 2021: Bullish Jangka Panjang Sampai ke 1.2750?

EUR/USD Review & Outlook 2021: Bullish Jangka Panjang Sampai ke 1.2750?

Pandemik mengacaukan pasar keuangan dan ekonomi global di tahun 2020 dan dolar AS adalah yang paling dirugikan. EUR/USD telah mencapai level yang terakhir terlihat pada tahun 2018, tidak jauh dari puncak pada tahun itu di 1.2554. Setelah hampir satu tahun dilanda pesimisme, para investor sekarang sangat optimis dengan Wall Street diperdagangkan di rekor ketinggiannya. Dan hal ini terjadi hanya beberapa bulan setelah negara – negara dengan perekonomian utama dunia membukukan kontraksi ekonomi terbesar yang pernah terjadi selama beberapa dekade.

Pada akhir tahun 2019, virus corona yang berasal dari Cina masih dibawah radar. Tiga bulan kemudian sudah menyebar ke seluruh dunia dan sudah terlalu terlambat untuk bisa menahannya. Pertama kali datang di Itali kemudian dengan cepat melompat ke AS dengan episentrum di New York. Dunia menjadi berhenti melakukan kegiatannya. Lockdown yang dilakukan gagal untuk mencegah penyebaran dan hanya bisa sebagian mengkontrol virus tersebut. Dan kehancuran terhadap ekonomi telah terjadi. GDP global tumbang di kuartal kedua dari tahun 2020 dengan beberapa negara masih bernasib sedikit lebih baik daripada yang lainnya. Kali ini kepanikan tidak membantu menaikkan dolar AS.

Dengan tahun 2020 segera akan berakhir, beberapa vaksin telah mendapatkan persetujuan penggunaan secara darurat dan populasi dunia yang pertama kali menerima suntikan vaksin dimulai. Namun suntikan dalam jumlah yang masal dan masif masih jauh dari terlaksana, begitu juga soal kefektifannya. Social Distancing, masker wajah, dan bekerjan dari jarak jauh secara online menjadi bagian dari kehidupan normal manusia yang baru yang akan terus berlanjut ke 2021.

Konsumsi telah mengalami perubahan pergerakan yang sangat besar. Langkah – langkah restriksi telah membuat dunia hampir – hampir tidak ada kegiatan untuk bersantai. Biaya penanggulangan secara global bisa dihitung berapa miliar dolar AS. Banyak bisnis kecil sampai yang level multinasional mengalami kebangkrutan dan itu terjadi meskipun bank sentral – bank sentral utama dunia telah membanjiri pasar dengan pelonggaran yang masif.

Ekonomi utama dunia berhasil bangkit pada kuartal ketiga namun jalan untuk kembali ke level sebelum pandemik terjadi masih jauh dan menyakitkan ditengah ketidak seimbangan penghasilan dan level kemiskinan yang sangat ekstrim khususnya di duni ketiga.

ECB dan the Fed

Pada bulan Maret, bank – bank sentral utama dunia meluncurkan program darurat dalam skala yang besar untuk menangkis dampak negatip dari pandemic virus corona terhadap ekonomi. Federal Reserve AS mengumumkan akan membeli paling sedikit $700 miliar assets pada bulan – bulan yang akan datang dan tanpa batas. Dalam pertemuan mereka bulan Desember, the Fed mempertahankan kebijakan mereka yang ultra longgar dan mengumumkan akan memperpanjangnya “sampai ada kemajuan yang substansial lebih lanjut” terhadap “employment” dan inflasi, yang menjadi 2 tujuan utama. Di antara waktu – waktu yang ada, the Fed mengadopsi target inflasi “average”, yang mengijinkan mereka untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga yang rendah bahkan apabila inflasi telah melewati target 2%. Tingkat bunga diperkirakan akan tetap pada rekor kerendahanya untuk beberapa tahun yang akan datang.

European Central Bank mengumumkan paket awal senilai €120 miliar dan setelah itu meluncurkan Pandemic Emergency Purchase Program (PEPP) senilai €750 miliar sampai akhir tahun. PEPP ini ditambah pada bulan Juni menjadi €1.35 triliun sampai paling tidak akhir Juni 2021. Pada pertemuan mereka di bulan Desember yang baru lalu, para pembuat kebijakan di Eropa, sekali lagi menambah program stimulus mereka menjadi €1.85 triliun sementara memperluas pembelian minimum sampai bulan Maret 2022.

Inilah dampak dari pandemic virus corona terhadap ekonomi global: stimulus moneter dimana – mana. Bukan saja di Eropa dan Amerika Serikat. Bank – bank di seluruh dunia telah mengambil langkah yang serupa. Kecepatan dari stimulus moneter ini akan tetap tinggi sepanjang ekonomi masih harus berjuang melawan virus corona dan restriksinya yang menghancurkan ekonomi.

Apabila ekonomi dunia bisa kembali normal, hal ini berarti berkurangnya stimulus pada tahun 2021 dan Wall Street kemungkinan akan terpukul.

Percaya Kepada Pemulihan Ekonomi Global

GDP AS bangkit sebanyak 33.1% YoY pada kuartal ketiga setelah kejatuhan sampai 31.4% di kuartal kedua. Demikian juga di Uni Eropa, GDP Uni Eropa yang sebelumnya pada kuartal kedua terkontraksi sebanyak 13.9% YoY, mengalami kebangkitan sebanyak 11.6% pada kuartal ketiga.

Di Uni Eropa, jumlah orang yang bekerja jatuh sebanyak 2.8% di kuartal kedua namun berhasil naik sebanyak 0.3% dalam tiga bulan ke bulan September. Di Amerika Serikat, negara ini kehilangan sekitar 22 juta pekerjaan antara bulan Maret sampai dengan bulan April, namun berhasil pulih sekitar setengahnya diantara bulan Mei sampai bulan November.

Gelombang kedua dari virus corona telah memukul ke dua negara, AS & Eropa, hampir sama sejak musim panas berakhir, yang mengakibatkan restriksi baru dalam beberapa level di AS dan Eropa. Namun, vaksin yang telah mulai dibagikan kemungkinan bisa mendorong pemulihan ekonomi dan pekerjaan. Goldman Sachs meluncurkan laporan yang memberikan indikasi bahwa 50% dari populasi yang divaksinasi kelihatannya realistik pada bulan April baik untuk AS dan Inggris dan pada bulan Mei untuk Kanada, pada bulan Juni untuk Uni Eropa dan Australia dan bulan Juli untuk Jepang.

Dunia bertaruh ekonomi sudah mulai kembali berjalan pada pertengahan 2021. Kemungkinan ini bisa saja terjadi meskipun ketidak seimbangan akan tetap ada. Namun untuk mencapai level employment yang sama seperti pada sebelum pandemik, masih belum dapat dibayangkan. Sementara inflasi tetap akan rendah. Konsumsi yang tertekan akan terus menekan inflasi lebih lama daripada perkiraan bank sentral yang paling pesimis sekalipun. Biar bagaimanapun, optimisme bertahta pada perspektif yang lebih luas ditengah kekacauan pasar yang memicu permintaan safe-haven disana – sini sekalipun.

USD Cenderung Turun

Pada bulan Maret 2020, indeks dolar AS (DXY) naik mencapai puncaknya di 102. Sejak itu DXY telah tergelincir dan baru – baru ini diperdagangkan dekat kerendahan selama 2,5 tahun, dibawah batas 90.

Dolar AS kemungkinan akan menguat pada kuartal pertama tahun depan. Namun secara keseluruhan tren buat USD untuk tahun 2021 adalah turun.

Pandemic Covid – 19 yang menyebabkan dolar AS diburu sebagai safe-haven dalam keadaan darurat, diperkirakan tidak akan berlangsung lama sehingga hanya akan bisa menghentikan penurunan dolar AS untuk sementara. Dolar AS hanya akan bisa mengambil keuntungan secara jangka pendek dari masih naiknya kasus virus corona, potensi lockdown yang baru, dan berhentinya untuk sementara waktu pemulihan ekonomi pada musim dingin sekarang ini. Apabila permintaan akan dolar AS karena keadaan darurat telah mereda, penurunan dolar AS akan berlanjut.

Penggerak utama dibelakang pasar dolar AS yang “bearish” adalah pencetakan uang secara masif, inflasi (trade reflation), pulihnya ekonomi global, sentimen “risk-on” dan kebijakan moneter yang longgar.

Dengan kebijakan moneter yang longgar, AS diperkirakan tidak akan menaikkan tingkat bunga atau “growth differentials” yang menarik tabungan dunia. Sementara the Fed terus mempertahankan tingkat bunganya rendah, tingkat bunga riil akan terus turun dan inflasi akan naik sebagai akibatnya yang membuat dolar AS melemah.

Sementara besarnya pencetakan uang dan hutang akan membuat nilai matauang dolar AS terdevaluasi yang pada gilirannya akan menyebabkan trade reflation/inflasi.

Vaksinisasi yang meluas dan akhirnya menghasilkan imunitas secara kelompok sehingga membuat aktifitas perdagangan kembali tinggi, akan membuat deflasi segera berubah menjadi inflasi karena perdagangan (reflation trade)..

Pulihnya ekonomi global akan membangkitkan sentiment “risk-on” yang akan membuat bursa saham mengalami dorongan kenaikan yang baru. Kenaikan harga saham biasanya berbanding terbalik dengan USD.

Terus naiknya saham – saham AS dan membaiknya minat terhadap resiko, akan menekan dolar AS. Semakin sentimen investor “risk-on”, semakin uang keluar dari AS ke pasar “emerging” yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi namun dengan resiko yang juga meningkat. Membaiknya kesempatan investasi secara global akan membuat dolar AS yang safe-haven berada dalam tekanan turun yang berkelanjutan.

Disamping itu pencetakan uang besar – besaran, dikombinasikan dengan pemulihan ekonomi dan meningkatnya permintaan konsumen juga akan bisa memicu inflasi yang akan melemahkan daya beli dari dolar AS. Inflasi kemungkinan akan mulai menampakkan diri pada paruh kedua 2021 dengan permintaan yang kuat datang ditengah kurangnya “supply” dibanyak sektor akibat pandemik.

Sementara respon the Fed kemungkinan adalah membiarkan inflasi naik menjadi panas asal “employment” bisa meningkat penuh, sesuai dengan yang telah dikatakan bahwa the Fed akan mengadopsi target inflasi rata – rata yang baru yang fleksibel.

AS, Cina dan Perang Dagang

Sebelum pandemic yang melanda dunia bagaikan badai, ketegangan perdagangan antara Washington dengan Beijing menjadi pusat perhatian dunia. Apakah akan berlangsung lagi apabila dunia sudah kembali normal? Kemungkinan bisa terjadi.

Presiden AS Donald Trump masih belum menyerah sekalipun Electoral College telah mendeklarisasikan kemenangan bagi Joe Biden. Banyaknya kecurangan yang terjadi yang dapat dibuktikan dengan mudah bisa membalikkan kemenangan bagi Donald Trump. Apabila Donald Trump kembali menjadi Presiden termin kedua, maka perang dagang akan berlanjut. Sekalipun apabila Joe Biden yang menjadi presiden, Biden berkata bahwa dia akan tetap menekan Cina dan melawan praktek – praktek perdagangan yang tidak adil dengan Cina.

Perlu dicatat bahwa matauang yang lebih lemah tidak selalu berarti buruk. Dolar AS yang rendah bisa memberikan kontribusi terhadap pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat. Kebalikannya juga valid. Matauang yang lebih mahal menahan kemajuan ekonomi suatu negara.

Perspektif Tehnikal

Pada 25 Desember, Natal yang baru lalu, EUR/USD turun dari ketinggiannya, bergantung kepada level 1.2200. Pergerakan naik EUR/USD menunggangi gelombang optimisme Brexit. Optimisme juga menjadi penggerak kunci dibelakang kejatuhan dolar AS.

Matauang bersama Eropa ini berhasil memulihkan kembali hampir semua kerugian yang terjadi dalam dua tahun, diantara  bulan Maret dan Desember tahun ini.

Pasangan matauang EUR/USD telah menjalani trend “bearish” sejak menyentuh 1.2554 pada bulan Februari 2018. Dari sejak saat itu, pasangan matauang ini terus turun dengan pada bulan Maret menyentuh kerendahan selama beberapa tahun di 1.0673. Dalam perspektif tehnikal yang lebih luas, trend turun dari pasangan matauang ini sudah mendominasi sejak bulan Juli 2008 dimana sebelumnya sempat menyentuh 1.6036.

Garis trend penurunan tersebut diatas sebenarnya sudah mulai tertembus pada beberapa bulan yang lalu, namun baru pada bulan Desember pasangan matauang ini bisa mendapatkan momentum yang cukup kuat untuk memkonfirmasikan telah terjadi “bullish breakout”.

Target yang logis berikutnya  ada di 1.2554 dan kenaikan tambahan melewati keuntungan ini akan bisa memberikan signal “bullish “ secara jangka panjang yang terus menerus. Jika hal ini terjadi, maka zona harga 1.2750 adalah target selanjutnya.

Pergerakan naik EUR/USD akan patah semangat jika pasangan matauang ini gagal melewati batas 1.2000, namun masih akan belum menyerah kecuali turun sampai menembus dibawah 1.1600 pada kuartal pertama dari 2021, karena akan bisa turun sampai ke 1.0351 kerendahan beberapa dekade yang dibukukan pada Desember 2016.

( vibiznews )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Harga Gula Turun ke Harga Terendah 2 1/4 Bulan

Harga gula pada penutupan hari Selasa turun harga gula London turun ke terendah 2 1/4 bulan, karena curah hujan meningkat di Brazil.Harga...

Rupiah Rabu Ditutup Melemah ke Rp14.432/USD; Dollar di Eropa Agak Flat, Pernyataan the Fed

Dalam pergerakan pasar uang awal pekan Rabu sore ini (23/6), nilai tukar rupiah terhadap dollar ditutup melemah, dengan mengurangi loss sesi siangnya,...

Harga Karet Tocom Rebound dari Pelemahan 4 Sesi, SHFE Melompat ke Tertinggi 2 Pekan

Setelah tertekan selama 4 sesi berturut, harga karet Tocom rebound dari posisi terendah 2 bulan pada perdagangan hari Rabu (23/6/2021), demikian dengan...

Rupiah Rabu Siang Melemah ke Rp14.445/USD; Dollar di Asia Melanjutkan Rebound

Dalam pergerakan pasar uang awal pekan Rabu siang ini (23/6), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau melemah, menambah loss sesi paginya, sementara...

Recent Comments