Sunday, September 19, 2021
Home Berita Forex Dolar AS Menguat Sepekan Terakhir, Euro Juga Naik Pasca Keputusan ECB

Dolar AS Menguat Sepekan Terakhir, Euro Juga Naik Pasca Keputusan ECB

Dolar AS sedikit mengalami pelemahan pada Jumat (10/09) petang, namun menuju minggu kemenangan seiring langkah trader meninjau kembali kemungkinan waktu dimulainya penarikan stimulus Federal Reserve ditopang oleh kekhawatiran mengenai kekuatan pemulihan global, sementara euro menerima sedikit dukungan dari sentimen kebijakan European Central Bank (ECB).

Pada pukul 14.32 WIB, Indeks Dolar AS, turun tipis 0,07% ke 92,418 menurut data Investing.com. Untuk sepekan indeks menguat 0,42%.

USD/JPY naik 0,24% ke 109,96, EUR/USD naik 0,145 di 1,1842, GBP/USD menguat 0,26% di 1,3871, sedangkan AUD/USD juga menguat 0,39% di 0,7395. Adapun rupiah terus menguat 0,32% di 14.205,0 per dolar AS hingga pukul 14.49 WIB.

Dolar AS telah rebound, sampai batas tertentu, dari titik terendah minggu lalu di 91,941, level terlemah sejak awal Agustus, karena trader mulai mempertimbangkan kembali kemungkinan Federal Reserve mengurangi program pembelian obligasi dalam waktu yang cukup singkat.

Data ketenagakerjaan nonpertanian yang lemah Jumat lalu mengindikasikan kebijakan akan ditunda, tetapi sejak saat itu survei JOLTS menunjukkan sejumlah besar lowongan pekerjaan yang tidak terisi dan klaim pengangguran awal turun pada hari Kamis ke level terendah dalam hampir 18 bulan.

Selain itu, Gubernur Fed Michelle Bowman menyatakan Kamis bahwa laporan tenaga kerja Agustus yang lemah tidak akan membuat bank sentral keluar jalur.

Di seberang samudera, European Central Bank (ECB) mengatakan akan memotong pembelian obligasi di bawah Program Pembelian Darurat Pandemi selama kuartal mendatang.

Namun, ini hanya memberikan dukungan kecil untuk mata uang tunggal euro karena diharapkan dan diamati hanya sebagai langkah untuk menghapus langkah-langkah stimulus besar-besaran bank sentral.

“Kami terus berpikir bahwa Fed akan lebih cepat dalam mengubah pengaturan kebijakan moneternya, dan melihat lebih banyak potensi penurunan untuk EUR/USD,” kata analis di Nordea, dalam catatan.

Sementara, ekonomi Inggris hampir tidak tumbuh pada bulan Juli. PDB naik hanya sebesar 0,1% dari Juni, pertumbuhan terlemah sejak Januari ketika negara itu kembali ke aturan penguncian yang ketat.

Ini jauh di bawah perkiraan pertumbuhan bulan ke bulan sebesar 0,6%, dan mengikuti peningkatan tajam dalam kasus Covid-19 di bulan itu, yang mengakibatkan ribuan pekerja harus mengasingkan diri di rumah.

USD/CNY turun 0,14% ke 6,4421 pukul 14.47 WIB, menuju level penutupan terlemah sejak Juni, setelah berita pembicaraan via telepon antara Presiden Xi Jinping dan Joe Biden, yang meningkatkan harapan peningkatan hubungan antara kedua negara.

Terakhir, USD/RUB turun 0,27% di 72,7842 menjelang pertemuan penetapan kebijakan terbaru oleh Bank of Russia di sesi berikutnya.

Bank sentral ini diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan utama untuk pertemuan kelima berturut-turut akibat harga konsumen naik 6,7% bulan lalu, level tertinggi dalam lima tahun, dan jauh di atas target inflasi 4% bank sentral.

( investing.com )

Most Popular

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Dipatok USD71,9/Barel

JAKARTA - Harga minyak dunia turun pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu pagi WIB), karena perusahaan-perusahaan energi di Teluk Meksiko AS...

Harga Emas Berjangka Turun Tertekan Penguatan Dolar

JAKARTA - Harga emas berjangka melanjutkan penurunannya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Harga emas memperpanjang kerugian untuk hari ketiga berturut-turut...

Ada Omnibus Law dan OSS, Indonesia Ajak Pengusaha Thailand Tingkatkan Investasi

Investor Thailand harus memanfaatkan kemudahan investasi di Indonesia seiring semakin kondusifnya iklim investasi di Tanah Air saat ini. Hal...

Indeks Dolar AS Sentuh Level Tertinggi dalam 3 Minggu

Nilai tukar (kurs) Dolar mencapai tertinggi tiga minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Dolar...

Recent Comments