Friday, May 20, 2022
Home Berita Komoditas Analisa Minyak 22 – 26 Februari 2021: Tergantung pada Stimulus AS

Analisa Minyak 22 – 26 Februari 2021: Tergantung pada Stimulus AS

Harga minyak benchmark Amerika West Texas Intermediate (WTI) berhasil mendapatkan minat beli di kerendahan di $58.60 pada perdagangan penutupan hari Jumat minggu lalu dan pada akhirnya berhasil memperoleh kembali level $59.00.

Sebenarnya prospek mulai normalisasi bertahap industry minyak di Texas setelah badai salju yang dingin baru – baru ini telah menambah tekanan turun terhadap harga minyak mentah WTI selama awal perdagangan. Selain itu penurunan disebabkan juga oleh meningkatnya produksi minyak OPEC+ segera pada bulan April. Secara tehnikal, ditambah lagi dengan kondisi yang sudah “overbought” karena kenaikan terus menerus harga minyak WTI sebelummya, sehingga cenderung terjadi koreksi penurunan.

Hal yang mendukung naik harga minyak WTI adalah laporan dari Energy Information Administration (EIA) yang mengatakan bahwa persediaan minyak mentah AS turun hamper 7.3 juta barel selama minggu lalu, menambah penurunan yang dilaporkan oleh American Petroleum Institute (API) sebelumnya.

Bersamaan dengan penurunan persediaan minyak mentah AS dan kondisi udara yang beku di Texas, arus masuk ke ETF yang berbasis komoditi mengalami peningkatan sehingga mendukung rally harga minyak mentah WTI. Sentimen pasar yang bagus dan turunnya dollar AS pada hari terakhir perdagangan Jumat minggu lalu juga berperan bagi kenaikan kembali harga minyak ke level 59.

Minggu ini, fokus pasar ada pada stimulus fiskal AS. Pemungutan suara mengenai paket kelegaan Covid – 19 senilai $1.9 triliun direncanakan akan dilakukan pada tanggal 26 Februari. Namun partai yang berkuasa saat ini hanya memiliki mayoritas yang kecil di Dewan Rakyat dan kemungkinan tipis di Senat. Apakah undang – undang paket stimulus bisa lolos dan mendukung ekonomi? Perdebatannya ada pada kenaikan upah minimum dan eligibilitas untuk cek stimulus senilai $1,400. Namun pasar kurang tertarik dengan detilnya melainkan dengan jumlah totalnya. Apabila jumlah yang keluar lebih tinggi dari  $1.5 triliun investor akan senang. Namun apabila jumlah yang keluar mendekati $1 triliun, pasar akan kecewa.

Kesenangan investor akan membawa sikap “risk-on” ke pasar sehingga menaikkan prospek assets berisiko seperti minyak mentah.

“Support” terdekat menunggu di $58.60 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $57.43  dan kemudian $56.36. “Resistance” yang terdekat menunggu di $59.95 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $60.89 dan kemudian $62.40.

( vibiznews )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

Most Popular

Harga Kedelai Naik, Karena Ekspor Mingguan Meningkat

Harga kedelai kembali naik pada penutupan pasar hari Kamis, setelah Laporan Ekspor Mingguan, dimana ekspor mingguan kedelai meningkat, hanya minyak kedelai masih turun, karena...

Rupiah Jumat Siang Rebound ke Rp14.665/USD; Bangkit dari Tekanan 5 Hari

Dalam pergerakan pasar uang Jumat siang ini (20/5), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau rebound menguat setelah tertekan 5 hari, mengurangi sebagian gain sesi...

Harga Minyak Sawit Turun Setelah Presiden Jokowi Membuka Kembali Ekspor Minyak Sawit 23 Mei 2022

Harga minyak sawit turun pada penutupan pasar hari Kamis setelah Presiden Jokowi memberi pengumuman bahwa akan membuka ekspor minyak sawit dan turunannya pada hari...

Hanya Harga Gandum yang Turun, Harga Kedelai dan Jagung Masih Naik

Pergerakan Pasar Di Bursa Chicago Grain Exchange pada hari Kamis 19 Mei 2022 Harga biji-bijian mixed , setelah Laporan Penjualan Ekspor Mingguan pada hari...

Recent Comments