Thursday, May 19, 2022
Home Analysis Analisa Forex Analisa EUR/USD 15 – 19 Februari 2021: Tergantung Politik dan Matauang AS

Analisa EUR/USD 15 – 19 Februari 2021: Tergantung Politik dan Matauang AS

Pasangan EUR/USD berhasil naik mencapai 1.2149 namun tidak bisa mempertahankan keuntungannya diatas angka 1.2100. Kenaikan ini tidak ada hubungannya dengan matauang bersama Eropa, melainkan karena melemahnya dollar AS. Matauang Amerika jatuh setelah rilis laporan NFP yang mengecewakan dan terus lemah sepanjang minggu lalu.

Setelah sesi sebelumnya ditutup pada posisi tertinggi sepekan lebih di 1.2149,  posisi EUR/USD bergerak bearish sejak awal sesi Asia ke 1.2095. Tenaga rally kurs euro tidak berlanjut lagi oleh merosotnya perdagangan aset risiko yang menguntungkan posisi dolar AS.

Yield hutang pemerintah AS membumbung naik, sebagai tanda naiknya optimisme yang kebanyakan berhubungan dengan akan diloloskannya paket stimulus AS. Yields obligasi jangka panjang mencapai level yang terjadi pada bulan Maret 2020 tapi dengan cepat turun Kembali setelahnya. Optimisme memudar pada saat mengakhiri minggu lalu sehingga dollar AS Kembali turun mendekati kerendahan mingguannya. Hal ini membawa EUR/USD naik kembali keatas 1.2100 di level 1.2120, masih dibawah posisi tertinggi dalam sepekan yang dicapai sebelumnya.

Amerika Serikat terus menambah usaha vaksinasi ke publik namun usaha untuk mendorong ekonomi mandek. Senat habis waktunya hanya untuk mengurusi hal yang tidak perlu, impeachment. Ditengah prospek melambatnya pertumbuhan, investor akhirnya kembali membeli obligasi AS sehingga mendorong turun imbal hasil obligasi dan juga dollar AS. Korelasi antara dollar AS dengan kembalinya investor ke hutang AS tetap signifikan.

Jerome Powell, Gubernur Federal Reserve AS juga memberikan kontribusi bagi turunnya dollar AS. Powell mengulangi jaminannya untuk mendukung ekonomi dan mengabaikan setiap potensi kenaikan di dalam inflasi sebagai sesuatu yang tidak berarti banyak. Sementara angka CPI AS untuk bulan Januari juga memang meleset daripada yang diperkirakan.

Powell juga berjanji untuk melakukan segala sesuatu untuk mencapai “full employment” dan memburuknya klaim pengangguran mingguan AS menunjukkan bahwa jalan menuju “full employment” masih panjang. Hal ini berarti the Fed kemungkinan masih akan terus membeli obligasi dan mendorong turun dollar AS.

Minggu ini, di Eropa, Jerman akan mempublikasikan angka inflasi bulan Januari final yang diperkirakan memberikan konfirmasi di 1.6% YoY. Pada hari Selasa, Uni Eropa akan mempublikasikan perkiraan pendahuluan dari GDP kuartal ke empat yang diperkirakan kontraksi di – 0.7%, sementara Jerman akan merilis survey ZEW bulan Februari. Pada akhir minggu, market akan merilis perkiraan pendahuluan dari PMI bulan Februari untuk Uni Eropa.

Data yang keluar kemungkinan akan meneguhkan pertumbuhan ekonomi yang melambat sehubungan dengan diberlakukannya lockdown karena meningkatnya infeksi virus corona.

Di Amerika Serikat, sidang atas Trump tetap berlanjut di Washington namun diperkirakan akan segera berakhir dalam beberapa hari lagi. Bahkan sebelum diambil keputusan, orang sudah tahu bahwa Trump akan dibebaskan karena tidak cukup banyak Republikan yang setuju dengan impeachment. Berita – berita mengenai stimulus akan kembali menguasai pasar dan mempengaruhi pergerakan harga.

Apakah paket stimulus akan keluar senilai yang diusulkan $1.9 triliun? Kemungkinan tidak. Namun nilai yang mendekati ini dan diatas $1 triliun sudah akan memuaskan pasar saham. Saat ini diperkirakan nilai yang sudah diperhitungan dalam harga di pasar adalah sebesar $1.5 triliun. Bagi dollar AS, semakin besar nilainya berarti semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai sehingga mendorong naik dollar AS.

Amerika Serikat terus mempercepat kampanye vaksinnya. Sebelumnya perkiraan 50% jumlah populasi telah divaksinasi adalah pada pertengahan Juli. Sekarang diperkirakan di akhir Juni sudah  tercapai 50% dari populasi telah divaksin.

Angka penjualan ritel bulan Januari diperkirakan akan berdampak yang substansial. Expenditure turun jauh di bulan November dan Desember tahun lalu, meskipun ada liburan Natal dan akhir/awal tahun. Namun pada bulan Januari diperkirakan akan mengalami kenaikan sebagian karena stimulus yang keluar dari kongres pada akhir Desember.

Risalah pertemuan FOMC the Fed juga diperhatikan pasar. Setiap tanda – tanda akan dilakukannya pengurangan kecepatan pembelian obligasi akan mendorong naik dollar AS dan sebaliknya.  Klaim pengangguran mingguan juga akan diamati dengan seksama.

“Support” terdekat menunggu di 1.2090 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2050 dan kemudian 1.2000.  “Resistance” terdekat menunggu di 1.2170  yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2215 dan kemudian 1.2260.

Pasangan matauang ini bisa menjadi “bearish” apabila “support” di 1.1970 berhasil ditembus, maka akan bisa turun sampai ke 1.1880. Sedangkan apabila berhasil naik menembus keatas 1.2260, bisa terus naik mengetes level 1.2349.

( vibiznews )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

Most Popular

Utang Luar Negeri Indonesia Triwulan I 2022 Menurun

Bank Indonesia merilis posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2022. Posisi ULN Indonesia menurun di mana pada akhir triwulan I 2022...

Harga Kakao Turun Karena Menguatnya Indeks Dolar AS

Harga kakao pada penutupan pasar hari Rabu turun karena menguatnya indeks dolar menurunkan harga komoditas termasuk kakao. Turunnya indeks saham akan membuat investor melikuidasi...

Forex Eropa AUDUSD 19 Mei: Terangkat oleh Laporan Rekor Terendah Pengangguran Australia

Posisi Aussie dolar dalam pair AUDUSD pada perdagangan forex sesi Eropa hari Kamis (19/5/2022) bergerak lebih tinggi dari tekanan sesi sebelumnya dan sempat menembus...

Rupiah Kamis Siang Melemah ke Rp14.716/USD; Dollar di Asia Terkoreksi Sejenak

Dalam pergerakan pasar uang Kamis siang ini (19/5), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau melemah di hari kelimanya, menguangi sebagian loss sesi paginya, sementara...

Recent Comments