Wednesday, June 16, 2021
Home Analysis Opini Analisa EUR/USD 11 – 15 Januari 2021: Cenderung Bullish?

Analisa EUR/USD 11 – 15 Januari 2021: Cenderung Bullish?

EUR/USD memulai tahun yang baru 2021 dengan mencapai ketinggian beberapa tahun yang baru di 1.2349, dengan optimisme terus menekan dolar AS turun. Namun, dolar AS pulih kembali sebagian menjelang penutupan akhir minggu lalu, sekalipun secara jangka panjang masih cenderung melemah. Akibatnya EUR/USD tertekan dan turun ke 1.2222.

Pasar keuangan optimis akan kembalinya ekonomi dunia pada paruh kedua dari tahun 2021, dengan stimulus yang masif dari pemerintah dan bank sentral terus menaikkan permintaan akan assest dengan imbal hasil yang tinggi.

Imunisasi coronavirus dengan berbagai vaksin dimulai pada bulan Desember 2020 dengan tidak lancar, namun tetap maju. Menurut Bloomberg sudah 17,5 juta yang menerima vaksin secara global dengan 6,25 juta di Amerika Serikat.

Dolar AS berhasil bangkit dengan Wall Street melonjak mencetak ketinggian historikal dan imbal hasil obligasi pemerintah melesat naik ke level yang terlihat pada bulan Maret 2020, ketiak pandemik mulai menghantam dunia dan memicu sentimen “risk-off”.

Setelah penyerbuan ke Capitol dimana para Senator sedang bersidang untuk mengesahkan hasil dari Electoral Vote, Presiden Trump menghimbau untuk terjadinya rekonsiliasi dan mengumumkan bahwa transisi yang tertib akan berlangsung pada tanggal 20 Januari. Semua kembali tenang.

Data makro ekonomi yang dirilis pada minggu lalu gagal mengesankan pasar. Markit mempublikasikan PMI Uni Eropa bulan Desember versi final. Laporan ini menunjukkan bahwa aktifitas bisnis di Uni Eropa melemah di bulan Desember, dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan dengan di bulan November. Output manufaktur berada pada teritori ekspansi namun sektor jasa berada pada teritori kontraksi.

Uni Eropa juga mempublikasikan Penjualan Ritel bulan November yang jatuh 6.1% YoY meskipun demikian Penjualan Jerman membaik 5.6% pada periode yang sama. Angka inflasi tetap rendah.

Amerika Serikat mempublikasikan indeks ISM resmi, dengan aktifitas manufaktur mengalami kenaikan namun sektor jasa mengalami penurunan. Negara ini juga merilis laporan yang ditunggu-tunggu Nonfarm Payroll bulan Desember pada hari Jumat minggu lalu, yang menunjukkan Amerika Serikat kehilangan 140.000 pekerjaan pada bulan Desember yang adalah jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan.  Berita ini membuat dolar AS terkendala untuk naik lebih lanjut.

Minggu ini, pasar akan menggali perkembangan politik terbaru dan laporan NFP pada awal minggu sebelum statistik coronavirus mengambil alih perhatian. Naiknya jumlah pasien rumah sakit adalah yang paling mengkuatirkan bagi pasar karena akan membawa kepada lockdown lebih jauh. Sampai saat ini para Gubernur enggan untuk memberlakukan restriksi yang baru, meskipun kondisi yang semakin buruk akan bisa mendorong mereka untuk melakukannya.

Tekanan meningkat untuk menambah kecepatan dalam kampanye vaksin. Masing – masing negara bagian kemungkinan akan mempercepat distribusi vaksinnya khususnya dengan Moderna hanya memerlukan temperatur lemari es yang normal.

Pasar ingin melihat pasien di rumah sakit turun dan vaksin meningkat. Hal ini akan mendorong naik sentimen positip di pasar dan membuat dolar AS turun.

Data makro ekonomi pada minggu ini relatif ringan. Amerika Serikat akan merilis angka CPI bulan Desember pada hari Rabu dan Penjualan Eceran pada hari Kamis. Laporan yang kritikal keluar pada hari Jumat dengan akan dipublikasikannya perkiraan pendahuluan  dari Michigan Consumer Sentiment Index bulan Januari.

Angka dari Consumer Price Indeks akan tetap lemah. Tabungan orang Amerika kemungkinan akan mendorong naik harga – harga nanti pada paruh kedua tahun 2021. Namun di bulan Desember 2020 dan kemungkinan sampai tahun ini, inflasi masih akan tetap tertekan. Ini akan membuat the Fed bisa terus mempertahankan tingkat bunga mendekati nol dan mendorong dolar AS turun.

Highlight dari kalender ekonomi AS pada minggu ini adalah laporan penjualan ritel. Konsumsi AS mengecewakan pada bulan November dan kemungkinan meningkat pada bulan Desember. Namun kurangnya dukungan dari pemerintah pada bulan lalu kemungkinan akan membuat angka bulan ini turun.

Gubernur the Fed, Jerome Powell akan berbicara pada hari Kamis dan kemungkinan akan berkomentar mengenai angka pekerjaan baru – baru ini. Jika dia membuka pintu untuk pembelian obligasi lebih banyak lagi, dolar AS akan bisa jatuh.

Sementara dari Uni Eropa data makro ekonomi yang relevan hanyalah Produksi Industri bulan November yang akan keluar pada hari Rabu.

Pasangan matauang EUR/USD pada minggu lalu, menyentuh dasar di 1.2212 dan berbalik kembali naik ke 1.2349. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2293 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2336 dan kemudian 1.2404. “Support” terdekat menunggu di 1.2210 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2129 dan kemudian 1.2050.

( vibiznews )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Surplus Neraca Perdagangan Berlanjut

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia Mei 2021 kembali surplus sebesar 2,36 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan surplus...

Harga Gula Turun ke Harga Terendah 2 1/2 Minggu

Harga gula pada penutupan pasar hari Selasa turun untuk ke empat hari berturut -turut sehingga harga gula di New York turun ke...

Rupiah Rabu Siang Masih Terkoreksi ke Rp14.255/USD; Dollar di Asia Flat Menjelang the Fed

Dalam pergerakan pasar uang Rabu siang ini (16/6), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau masih melemah di hari ketiganya, stabil dari sesi...

Harga Jagung Naik, Karena Cuaca Kering Di Brazil

Harga jagung pada penutupan pasar hari Selasa kembali naik setelah kemarin mengalami penurunan tajam, kenaikan terjadi karena rate pertumbuhan tanaman lebih rendah...

Recent Comments