Wednesday, June 23, 2021
Home Berita Forex Akan Berakhirnya Brexit & Virus, Kemana GBP/USD Akan Bergerak ?

Akan Berakhirnya Brexit & Virus, Kemana GBP/USD Akan Bergerak ?

Satu hari di akhir minggu yang gelap pada akhir Februari 2020, di Itali Utara adalah saat dimana pasar sepenuhnya dicengkeram oleh virus yang sebelumnya hanya membuat Wuhan jadi terkenal di peta dunia. Virus corona telah memicu penurunan Poundsterling, mengirimnya ke kerendahan selama 35 tahun terhadap dolar AS.

Puncak dari krisis bersamaan dengan transisi pimpinan BoE dari Mark Carney ke Andrew Bailey. Gubenur BoE yang baru ini memangkas tingkat bunga menjadi 0.10% – tingkat terendah sepanjang sejarah BoE. Terlebih lagi, BoE melipatgandakan skema pembelian obligasi dalam tiga tahap. Tahap terakhir bersamaan dengan pengumuman vaksin.

Logika sebelum pandemic adalah mencetak uang begitu saja akan mendevaluasi matauang yang bersangkutan. Setelah pandemic logika ini memudar menjadi naratif yang baru bahwa dana moneter akan membantu pemerintah dalam mendukung ekonomi pada saat ada dalam kesukaran. Pengumuman ini dikoordinasikan oleh bagian Keuangan dan meyakinkan para investor akan pemerintah yang efisien mempertahankan mesin ekonomi berjalan.

Bertolak belakang dengan Dolar AS, dimana logika yang lama masih tetap berjalan: mencetak dolar AS sama dengan mendevaluasi dolar AS dan juga mengurangi pelarian kepada keamanan. Federal Reserve AS mengembangkan neracanya sampai $3 triliun dan dengan kecepatan yang tinggi.

The Fed memperkenalkan program peminjaman yang baru dan mengumumkan kerangka kebijakan yang baru dimana memprioritaskan mencapai tujuan “employment” dengan mengorbankan panasnya inflasi. Penghematan dibuang jauh – jauh. Jerome Powell, Gubernur Federal Reserve mengatakan tidak terpikir untuk menaikkan bunga samasekali.

Federal Reserve AS mengumumkan akan membeli paling sedikit $700 miliar assets pada bulan – bulan yang akan datang dan tanpa batas. Dalam pertemuan mereka bulan Desember, the Fed mempertahankan kebijakan mereka yang ultra longgar dan mengumumkan akan memperpanjangnya “sampai ada kemajuan yang substansial lebih lanjut” terhadap “employment” dan inflasi, yang menjadi 2 tujuan utama. Di antara waktu – waktu yang ada, the Fed mengadopsi target inflasi “average”, yang mengijinkan mereka untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga yang rendah bahkan apabila inflasi telah melewati target 2%. Tingkat bunga diperkirakan akan tetap pada rekor kerendahanya untuk beberapa tahun yang akan datang.

Respon ekonomi dari pemerintah Inggris dihargai masyarakat. Menteri Keuangan Rishi Sunak memberikan dukungan yang cepat terhadap bisnis dan sukses dalam skema cutinya yang membayar sebagian besar dari gaji mereka yang tidak bisa bekerja asal tidak di PHK oleh perusahaannya. Hal ini sangat menekan turun tingkat pengangguran. Dan pasar bergembira.

Capitol Hill AS juga pada awalnya meluncurkan langkah bantuan yang multi triliun jumlahnya, yang memberikan kepada federal bantuan pengangguran dan dukungan terhadap bisnis kecil. Namun, selanjutnya Republikan dan Demokrat gagal mencapai kesepakatan untuk memberikan tambahan.

Dengan pemerintah sibuk bertempur melawan Covid – 19, pembicaraan mengenai Brexit menjadi berkurang. Pembicaraan mengenai Brexit baru mulai memanas kembali pada musim gugur, mendekati tenggat waktunya dan pasar mulai kembali berminat memperhatikannya. Pembicaraan Brexit kembali menjadi penuh dengan waktu terus berjalan mendekati tanggal 31 Desember.

Setelah mengalami ketidakpastian yang sangat tinggi pada tahun 2020, pada tahun 2021 kemungkinan ada dua hal yang bisa berakhir yakni Brexit dan Virus.

Brexit

Periode transisi Brexit berakhir pada akhir tahun 2020 ini, meskipun konsekwensinya masih memerlukan waktu untuk diketahui. Belum jelas sejauh mana kedua belah pihak akan menandatangani kesepakatan. Namun ini adalah pertamakalinya Inggris keluar dari Uni Eropa secara praktis. Selama masa transisi secara praktis tidak ada perubahan di dalam hubungan bilateral kedua belah pihak. Bila tanpa kesepakatan maka diperkirakan GDP Inggris akan berkurang sebanyak 2%.

Setelah lebih dari empat tahun berita – berita Brexit berdampak yang besar terhadap pergerakan Poundsterling, para trader merasa bahwa topik ini akan segera berlalu setelah beberapa minggu berjalannya tahun yang baru. Setelah mengalami banyak penderitaan karena Brexit, berlalunya Brexit dapat membuat Sterling naik lebih tinggi.

Selanjutnya pergerakan Pounsterling akan lebih banyak tergantung kepada data ekonomi Inggris. Apabila dunia mulai bangkit dan keluar dari malapetaka karena Covid – 19, apabila tidak ada kesepakatan yang menguntungkan dengan Uni Eropa, Inggris kemungkinan akan mengalami kerugian secara kompetitif, dan ini akan berpotensi mendorong poundsterling turun.

Virus Corona

Gelombang kedua dari virus corona, sejak musim panas berakhir, telah memukul ke dua negara baik AS maupun Inggris, yang mengakibatkan restriksi baru dalam beberapa level di AS dan Inggris khususnya London. Namun, vaksin yang telah mulai dibagikan kemungkinan bisa mendorong pemulihan ekonomi dan pekerjaan. Goldman Sachs meluncurkan laporan yang memberikan indikasi bahwa 50% dari populasi yang divaksinasi kelihatannya realistik pada bulan April 2021 baik untuk AS dan Inggris dan pada bulan Mei 2021untuk Kanada, pada bulan Juni 2021 untuk Uni Eropa dan Australia dan bulan Juli 2021 untuk Jepang.

Beberapa bulan pertama dari tahun 2021 kemungkinan akan sulit karena musim dingin akan memaksa orang – orang yang sudah lelah dengan pandemik untuk berada di dalam ruangan tertutup, yang berpotensi menyebarkan virus corona lebih lanjut. Terlebih lagi, produksi, distribusi dan efisiensi dari vaksin kemungkinan belum sepenuhnya dapat berjalan dengan lancar. Meskipun demikian, kepandaian umat manusia yang terbukti selama tahun 2020 kemungkinan akan bisa memberikan solusi yang cepat. Sementara itu Inggris tidak akan mungkin lebih terpukul dari negara lainnya.

Inggris bergerak lebih cepat daripada negara lainnya di dalam memberikan vaksin kepada penduduknya dan hal ini kemungkinan kurang diapresiasi oleh pasar. Sebuah kampanye imunisasi yang cepat dan sukses akan bisa membawa Sterling naik di musim semi dan panas, ketika orang Inggris kemungkinan akan kembali kepada kehidupan normal lebih cepat daripada rekan – rekan dari bagian dunia yang maju lainnya.

Pada akhir dari tahun 2021, dunia kemungkinan akan kembali kepada kehidupan yang hampir seluruhnya memasuki era new normal dan dampak dari virus terhadap matauang kemungkinan akan memudar.

Bank of England

Dengan Brexit dan virus secara bertahap memudar, kebijakan moneter dan fiskal domestik akan mulai berpengaruh.

Pasar saat ini menyukai peningkatan belanja pemerintah sementara melupakan mengenai hutang. Sepanjang inflasi dapat tetap ditekan, BoE bisa terus melanjutkan memberi dana kepada pemerintah dan investor akan memburu poundsterling seperti pada tahun 2020. Namun apabila Menteri Keuangan Sunak kembali kepada pendekatan model Thatcher dan memangkas belanja, sterling akan terpukul.

Kebijakan Gubernur BoE pada tahun 2020 lebih berinteraksi dengan pemerintah dan hal ini kemungkinan tidak akan berubah, meneruskan belanja pemerintah. Hal ini akan menjadi positip bagi Sterling. Namun jika inflasi mengalami kenaikan – apakah sebagai akibat dari belanja fiskal pemerintah, Brexit, naiknya harga-harga komoditas atau hal lainnya – BoE akan dipaksa untuk bertindak. Dalam keadaan seperti ini, Gubernur BoE, Bailey, kemungkinan akan mencoba menahan setiap kemungkinan kenaikan tingkat bunga.

USD Cenderung Turun

Pada bulan Maret 2020, indeks dolar AS (DXY) naik mencapai puncaknya di 102. Sejak itu DXY telah tergelincir dan baru – baru ini diperdagangkan dekat kerendahan selama 2,5 tahun, dibawah batas 90.

Dolar AS kemungkinan akan menguat pada kuartal pertama tahun depan. Namun secara keseluruhan tren buat USD untuk tahun 2021 adalah turun.

Pandemic Covid – 19 yang menyebabkan dolar AS diburu sebagai safe-haven dalam keadaan darurat, diperkirakan tidak akan berlangsung lama sehingga hanya akan bisa menghentikan penurunan dolar AS untuk sementara. Dolar AS hanya akan bisa mengambil keuntungan secara jangka pendek dari masih naiknya kasus virus corona, potensi lockdown yang baru, dan berhentinya untuk sementara waktu pemulihan ekonomi pada musim dingin sekarang ini. Apabila permintaan akan dolar AS karena keadaan darurat telah mereda, penurunan dolar AS akan berlanjut.

Penggerak utama dibelakang pasar dolar AS yang “bearish” adalah pencetakan uang secara masif, inflasi (trade reflation), pulihnya ekonomi global, sentimen “risk-on” dan kebijakan moneter yang longgar.

Dengan kebijakan moneter yang longgar, AS diperkirakan tidak akan menaikkan tingkat bunga atau “growth differentials” yang menarik tabungan dunia. Sementara the Fed terus mempertahankan tingkat bunganya rendah, tingkat bunga riil akan terus turun dan inflasi akan naik sebagai akibatnya yang membuat dolar AS melemah.

Sementara besarnya pencetakan uang dan hutang akan membuat nilai matauang dolar AS terdevaluasi yang pada gilirannya akan menyebabkan trade reflation/inflasi.

Vaksinisasi yang meluas dan akhirnya menghasilkan imunitas secara kelompok sehingga membuat aktifitas perdagangan kembali tinggi, akan membuat deflasi segera berubah menjadi inflasi karena perdagangan (reflation trade)..

Pulihnya ekonomi global akan membangkitkan sentiment “risk-on” yang akan membuat bursa saham mengalami dorongan kenaikan yang baru. Kenaikan harga saham biasanya berbanding terbalik dengan USD.

Terus naiknya saham – saham AS dan membaiknya minat terhadap resiko, akan menekan dolar AS. Semakin sentimen investor “risk-on”, semakin uang keluar dari AS ke pasar “emerging” yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi namun dengan resiko yang juga meningkat. Membaiknya kesempatan investasi secara global akan membuat dolar AS yang safe-haven berada dalam tekanan turun yang berkelanjutan.

Disamping itu pencetakan uang besar – besaran, dikombinasikan dengan pemulihan ekonomi dan meningkatnya permintaan konsumen juga akan bisa memicu inflasi yang akan melemahkan daya beli dari dolar AS. Inflasi kemungkinan akan mulai menampakkan diri pada paruh kedua 2021 dengan permintaan yang kuat datang ditengah kurangnya “supply” dibanyak sektor akibat pandemik.

Sementara respon the Fed kemungkinan adalah membiarkan inflasi naik menjadi panas asal “employment” bisa meningkat penuh, sesuai dengan yang telah dikatakan bahwa the Fed akan mengadopsi target inflasi rata – rata yang baru yang fleksibel.

Perspektif Tehnikal

Pounsterling Inggris menguat secara luas pada hari Rabu 23 Desember 2020 dan mendorong pasangan matauang GBP/USD ke puncak mingguan yang baru, ditengah ekspektasi kesepakatan Brexit yang sudah diambang pintu. Kenaikan mendadak atas Sterling disebabkan oleh laporan bahwa negara – negara anggota Uni Eropa telah diberitahukan oleh Komisi Eropa untuk bersiap bertemu pada hari Kamis untuk aplikasi provisi dari kesepakatan perdagangan yang baru dengan Inggris. Pasangan matauang ini mengalami rally sebanyak 225 pips dari kerendahan harian ke level tertinggi harian di 1.3570. Sumber – sumber dari Komisi Uni Eropa mengatakan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Demikian juga sumber dari pemerintah Inggris mengatakan hal yang sama. Para investor tetap yakin mengenai prospek kesepakatan. Dan sekarang berdiri menunggu konfirmasi resmi.

Secara tehnikal, gambaran umumnya adalah bullish bagi Sterling, dengan momentum mengarah naik dan RSI masih jauh dari teritori overbought.

Resistance yang kritikal menunggu di 1.3540 yang merupakan puncak pada tahun 2020 dan akan diikuti oleh 1.3730 kerendahan pada tahun 2017 dan kemudian 1.40.

Support ada pada kerendahan di bulan Desembar di 1.3140 yang diikuti oleh 1.2850 yang merupakan tahanan beberapa bulan lebih awal dan kemudian 1.2670.

( vibiznews )

Buka Akun Trading
MetaTrader Olymp Trade

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Harga Gula Turun ke Harga Terendah 2 1/4 Bulan

Harga gula pada penutupan hari Selasa turun harga gula London turun ke terendah 2 1/4 bulan, karena curah hujan meningkat di Brazil.Harga...

Rupiah Rabu Ditutup Melemah ke Rp14.432/USD; Dollar di Eropa Agak Flat, Pernyataan the Fed

Dalam pergerakan pasar uang awal pekan Rabu sore ini (23/6), nilai tukar rupiah terhadap dollar ditutup melemah, dengan mengurangi loss sesi siangnya,...

Harga Karet Tocom Rebound dari Pelemahan 4 Sesi, SHFE Melompat ke Tertinggi 2 Pekan

Setelah tertekan selama 4 sesi berturut, harga karet Tocom rebound dari posisi terendah 2 bulan pada perdagangan hari Rabu (23/6/2021), demikian dengan...

Rupiah Rabu Siang Melemah ke Rp14.445/USD; Dollar di Asia Melanjutkan Rebound

Dalam pergerakan pasar uang awal pekan Rabu siang ini (23/6), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau melemah, menambah loss sesi paginya, sementara...

Recent Comments